ADVERTISEMENT

Deretan Bank Raksasa Ini Minta Pegawai ke Kantor Lagi, Masih Bisa WFH?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 21 Jan 2022 09:10 WIB
Businesswoman Checking E-mail Online on Laptop
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Rawpixel
Jakarta -

Sejumlah bank-bank besar, perusahaan periklanan, hingga perusahaan asuransi di Inggris meminta para pegawainya kembali bekerja di kantor (work from office/WFO). Namun, sebagian besar perusahaan mengatakan bahwa pengaturan kerja yang fleksibel (hybrid) akan tetap ada.

Sejumlah perusahaan ini mulai meminta para karyawannya ini untuk kembali bekerja di kantor usai pemerintah Inggris melonggarkan aturan pembatasan COVID-19. Sebelumnya pemerintah Inggris telah melakukan pembatasan sejak Desember untuk memerangi varian Omicron.

Melihat pemerintah mulai melonggarkan kebijakan pembatasannya, sejumlah bank besar seperti HSBC mengatakan bahwa stafnya mulai kembali ke kantor pada Kamis (21/1) kemarin.

Selain HSBC, Citigroup dan Goldman Sachs juga berencana meminta para karyawannya kembali bekerja di kantor. Sementara itu, Standard Chartered telah meminta karyawan untuk ke kantor mulai Senin mendatang.

Selain perbankan, perusahaan-perusahaan besar lain seperti biro iklan Havas dan perusahaan asuransi Zurich juga berencana kembali menerapkan sistem kerja di kantor dan hybrid.

Meski demikian nampak bahwa hingga saat ini masih ada banyak karyawan dari berbagai perusahaan yang masih waswas untuk kembali bekerja di kantor. Hal ini dikarenakan mereka masih takut tertular COVID-19 saat bekerja di kantor.

"Banyak karyawan kami benar-benar ingin kembali ke kantor, tetapi ada beberapa orang yang gugup dan kami tidak memiliki satu standar yang cocok untuk semua pendekatan," kata Kepala Kreatif Global Havas, Chris Hirst dikutip dari BBC, Jumat (21/1/2022).

Agar para karyawan tidak merasa waswasuntuk kembali ke kantor, Kamar Dagang Inggris/British Chambers of Commerce (BCC) meminta pemerintah Inggris dapat meningkatkan akses rapid testing sehingga perusahaan dapat membawa stafnya kembali ke tempat kerja dengan percaya diri.

"Dengan tingkat infeksi yang masih tinggi, banyak perusahaan mengalami ketidakhadiran staf yang signifikan dan akan berhati-hati tentang tim yang bergegas kembali ke kantor ketika itu dapat mengakibatkan ketidakhadiran lebih lanjut," kata Direktur Jenderal BCC Shevaun Haviland.

"Pemeliharaan kapasitas pengujian juga harus menjadi prioritas bagi pemerintah, dengan laporan yang masih sampai kepada kami tentang perusahaan yang tidak dapat mengakses pengujian cepat pada saat mereka membutuhkannya," jelasnya lagi.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT