Cadangan Devisa Akhir 2006 Diperkirakan US$ 41,8 Miliar
Senin, 15 Mei 2006 11:57 WIB
Jakarta - Pemerintah memperkirakan posisi cadangan devisa hingga akhir tahun 2006 bertahan di level US$ 41,8 miliar. Jumlah ini setara dengan kebutuhan impor 4,8 bulan dan pembayaran cicilan utang luar negeri.Perkiraan ini lebih kecil dari angka pencapaian per akhir April 2006 yang sebesar US$ 42,8 miliar. Sementara posisi cadangan devisa akhir tahun 2005 sebesar US$ 34,7 miliar."Posisi cadangan devisa hingga akhir 2006 itu kira-kira US$ 41,8 miliar," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani.Hal itu diungkapkan Menkeu, dalam rapat gabungan dengan Komisi XI DPR yang membahas pokok kebijakan fiskal dan ekonomi makro di Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (15/5/2006).Cadangan devisa hingga akhir tahun itu, menurut Menkeu, dipengaruhi oleh adanya peningkatan surplus neraca modal, terkait dengan meningkatnya penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI) dan investasi portofolio.Menkeu menjelaskan, salah satu faktor yang menarik investor asing menanamkan modalnya di dalam negeri, karena masih tingginya potensi keuntungan investasi di Indonesia. Ini terlihat dari selisih suku bunga dalam dan luar negeri yang cukup besar.Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah mengatakan, kinerja pembayaran triwulan I-2006, secara keseluruhan membaik. Hal ini terlihat dari tingginya surplus, baik dari neraca transaksi berjalan maupun neraca modal dan finansial.Burhanuddin menjelaskan, posisi cadangan devisa per akhir April 2006 meningkat menjadi US$ 42,8 miliar atau setara 4,7 bulan kebutuhan impor dan pembayaran cicilan utang luar negeri pemerintah.Namun, lanjut Burhanuddin, peningkatan surplus tersebut tetap perlu dicermati, mengingat surplus pada neraca transaksi berjalan lebih disebabkan oleh melambatnya impor non-migas. Khususnya impor bahan baku yang dibutuhkan untuk mendukung ekspor Indonesia."Sehingga dikhawatirkan dapat menurunkan kinerja ekspor pada periode selanjutnya," kata Burhanuddin.Saat ini, ungkap Burhanuddin, struktur neraca modal dan finansial masih didominasi oleh aliran modal masuk jangka pendek yang cenderung sensitif dan berisiko tinggi terhadap terjadinya pembalikan modal (investment reversal).
(ir/)











































