Bank Mega Bidik Laba Rp 4,3 Triliun Tahun Ini

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 25 Feb 2022 14:03 WIB
Para nasabah melakukan akivitas perbankan di Kantor Kas Bank Mega TSM, Denpasar, Bali, Jumat (29/3/2019). Bank Mega membuka layanan perbankan di Trans Studio Mall (TSM) Denpasar untuk mendekatkan pelayanan kepada nasabah yang berada di pusat perbelanjaan yang baru dibuka kemarin itu.
Bank Mega/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

PT Bank Mega Tbk (MEGA) membidik laba Rp 4,3 triliun tahun ini. Laba tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian 2021 yang sebesar Rp 4 triliun.

Direktur Utama Kostaman Thayib menjelaskan pertumbuhan laba 2021 tersebut diperoleh dari pendapatan bunga bersih (Net Interest Income) yang naik 23,7% menjadi Rp 4,84 triliun dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,91 triliun.

"Selain pendapatan bunga bersih, pendapatan laba Bank Mega juga disebabkan oleh kenaikan pendapatan selain bunga (fee based income) sebesar 7,55% menjadi Rp 3,14 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,92 triliun", terang Kostaman dalam keterangan tertulis, Jumat (25/2/2022).

Bank milik Konglomerat Chairul Tanjung tersebut akan menjalankan beberapa strategi untuk memastikan pertumbuhan di 2022. Strategi tersebut di antaranya:

1. Sinergi dengan perusahaan-perusahaan dalam PT CT Corpora untuk meningkatkan volume usaha, menciptakan peluang usaha baru serta penambahan jumlah jaringan kantor secara terencana.

2. Memanfaatkan ekosistem yang tepat guna dalam menciptakan produk dan layanan baru yang memberikan keuntungan bagi nasabah dan Bank.

3. Transformasi teknologi informasi untuk mendukung perkembangan bisnis retail dan perbankan digital, mitigasi risiko operasional, serta efisiensi biaya operasional.

Berikut Target Kinerja Bank Mega pada Tahun 2022:
- Total aset diproyeksikan menjadi Rp 140,53 triliun
- Kredit yang disalurkan diproyeksikan menjadi Rp 67,73 triliun
- Dana pihak ketiga diproyeksikan menjadi Rp 106,09 triliun.
- Laba setelah pajak diproyeksikan menjadi Rp 4,30 triliun.

Tahun lalu, total aset emiten berkode MEGA itu tercatat tumbuh sebesar 18,43% menjadi Rp 132,88 triliun dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 112,2 triliun.

Sementara pertumbuhan kredit dicatat sebesar 25,14% menjadi Rp 60,68 triliun tahun lalu dari Rp 48,59 triliun di tahun 2020. Pertumbuhan kredit tersebut jauh di atas pertumbuhan industri perbankan yang tercatat hanya mengalami pertumbuhan 5,21%(yoy).

Kredit korporasi merupakan segmen kredit dengan pertumbuhan terbesar, yaitu meningkat 52,36% menjadi Rp 39,93 triliun dari Rp 26,21 triliun pada tahun 2020.

Pertumbuhan kredit ini juga diiringi dengan semakin membaiknya kualitas kredit Bank Mega. NPLgross membaik menjadi 1,12% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,39%. Sedangkan NPLnett menjadi 0,81% dari tahun 2020 yang sebesar 1,07%. Rasio NPLgross ini di bawah rata-rata industri perbankan sebesar 3%.

Pada penghimpunan Dana Pihak Ketiga, Bank Mega berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 24,90% menjadi Rp 98,91 triliun dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 79,19 triliun.

Pertumbuhan ini juga diiringi dengan membaiknya komposisi rasio dana murah dengan dana mahal menjadi 31,15% : 68,85% berbanding 28,12% : 71,88% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini berdampak terhadap penurunan biaya dana (cost of fund) menjadi 3,55% dari sebelumnya 5,15%.



Simak Video "Santap Sepuasnya di Resto Berkelas Lewat 'Makan Bareng Mega'"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)