Siap-siap Bunga Kredit Diramal Bakalan Naik

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Minggu, 29 Mei 2022 08:00 WIB
BUMN percetakan uang, Perum Peruri dibanjiri pesanan cetak uang dari Bank Indonesia (BI). Pihak Peruri mengaku sangat kewalahan untuk memenuhi pesanan uang dari BI yang mencapai miliaran lembar. Seorang petugas tampak merapihkan tumpukan uang di cash center Bank Negara Indonesia Pusat, kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (21/10/2013). (FOTO: Rachman Haryanto/detikFoto)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Suku bunga kredit perbankan diramal akan mengalami kenaikan. Hal ini karena ruang untuk penurunan sudah tak ada karena pengaruh ketidakpastian ekonomi global.

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menjelaskan saat ini memang tinggal menunggu waktu untuk Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan.

"Penurunan suku bunga kredit sudah tidak mungkin terjadi. Untuk turun sudah tidak mungkin, justru lebih besar kemungkinannya untuk naik," kata dia saat dihubungi detikcom, Sabtu (28/5/2022).

Dia menyebutkan saat ini memang BI belum mengerek suku bunga acuan tetapi terus mengetatkan likuiditas dengan menaikkan giro wajib minimum (GWM).

"Dampaknya akan sama, bank akan terdorong menaikkan suku bunga deposito dan bunga kredit," jelas dia.

Direktur CELIOS Bhima Yudhistira Adhinegara menilai pertimbangan bank menaikkan bunga kredit antara lain lantaran khawatir terjadinya risiko pengetatan likuiditas sepanjang semester kedua tahun ini akibat perebutan dana antara penerbitan SBN dan deposito.

"Jika suku bunga acuan naik, akan picu beralihnya investor ke surat utang pemerintah," kata Bhima.

Dengan jarak yang lebar antar SBN dan deposito akhirnya membuat bank berkejaran dengan mengerek suku bunga. Selain itu, angka inflasi mulai mengindikasikan kenaikan baik inflasi pangan maupun energi.

Semakin tinggi inflasi maka suku bunga pinjaman akan naik lebih cepat. Pemicu lainnya adalah ketidakpastian ekonomi sepanjang 2023 makin tinggi sehingga bank akan pertebal pencadangan dan naikkan bunga pinjaman khususnya suku bunga kredit konsumsi sebagai antisipasi risiko jangka menengah.

Bhima menyarankan bank sebaiknya fokus dulu untuk dorong pertumbuhan kredit dengan menahan suku bunga. Debitur yang baru bangkit dari pandemi kemudian ajukan pinjaman untuk ekspansi usaha nya sangat butuh bunga yang terjangkau.

"Begitu juga dengan konsumen properti, sebanyak 70% lebih pembelian rumah dengan KPR sehingga besaran bunga mempengaruhi ability to pay atau kemampuan membeli rumah," ujar dia.

Kemudian bank bisa dorong laba lewat proporsi fee based income yang lebih besar seperti fee dari wealth management sampai layanan digital.



Simak Video "Bicara Riba, Sri Mulyani: Al-quran Memperbolehkan Pinjam-meminjam"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)