The Fed Kerek Bunga Acuan 0,75%, Dampaknya Bikin Deg-degan Juga Nih!

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 16 Jun 2022 10:16 WIB
The U.S. Capitol is seen between flags placed on the National Mall ahead of the inauguration of President-elect Joe Biden and Vice President-elect Kamala Harris, Monday, Jan. 18, 2021, in Washington.
The Fed Kerek Bunga Acuan 0,75%, Dampaknya Bikin Deg-degan Juga Nih!/Foto: AP/Alex Brandon
Jakarta -

The Fed atau Bank Bank Sentral Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga acuan 0,75%. Kenaikan bunga acuan AS dilakukan saat inflasi menyentuh 8,6%.

Hal ini diharapkan bisa membuat inflasi lebih stabil tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain The Fed juga harus menjaga kestabilan harga dan menjaga tingkat pengangguran.

Langkah ini juga disebut bisa mengganggu proses pemulihan ekonomi di negara tersebut. Dikutip dari Washington Post, Kamis (16/6/2022), disebutkan saat ini bursa saham AS juga tertekan di tengah ancaman resesi.

Kenaikan bunga The Fed mempengaruhi suku bunga kredit di masyarakat. Nah hal ini akan mempengaruhi bunga kartu kredit, cicilan mobil, dan KPR. Meskipun memang The Fed tak langsung mengatur tingkat bunga tersebut, tapi tingkat bunga di bank biasanya mengikuti suku bunga bank sentral.

Banyak tantangan ekonomi yang membuat pasar khawatir masuk ke jurang resesi. Namun ada indikator yang bertentangan seperti tingkat pengangguran AS yang rendah dan masih tingginya belanja masyarakat.

Dengan naiknya suku bunga, The Fed ingin orang menahan belanja dan kembali menyimpan uang sampai harga mulai turun dan stabil.

Suku bunga ini memang menjadi senjata utama The Fed untuk menjaga perekonomian. Bank sentral bisa menurunkan bunga dan membuatnya lebih murah sehingga banyak orang menarik kredit. Hal ini bisa mendorong kegiatan ekonomi dan menggenjot investasi.

Ketika pandemi COVID-19 melanda, ekonomi dunia dalam krisis, banyak perusahaan sampai kantor pemerintah tutup dan tak ada aktivitas perekonomian. The Fed memangkas suku bunga mendekati nol. Ini adalah taktik yang digunakan bank sentral setelah krisis keuangan pada pertengahan 2000-an.

Hal ini demi membuat suku bunga lebih murah dan konsumen lebih mudah mendapatkan barang. Namun sejak keluar dari resesi COVID-19 ekonomi menghadapi tantangan baru.

Sementara The Fed menaikkan suku bunga acuannya, kondisi Inflasi di AS sudah berada pada level tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Harga bensin juga telah melampaui US$ 5 per galon. Masalah pasokan membuat bisnis dan konsumen terdampak.

Lihat juga video 'Joe Biden Abaikan Peringatan Buruk Elon Musk Soal Ekonomi AS':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/ara)