Bunga Deposito Makin Melempem, Taruh Uang di Mana Dong yang Cuan Gede?

ADVERTISEMENT

Bunga Deposito Makin Melempem, Taruh Uang di Mana Dong yang Cuan Gede?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 17 Jun 2022 13:33 WIB
Ilustrasi THR
Bunga Deposito Makin Melempem, Taruh Uang di Mana Dong yang Cuan Gede?/Foto: Muhammad Ridho
Jakarta -

Suku bunga deposito saat ini terus menurun sejalan dengan rendahnya bunga acuan Bank Indonesia (BI). Bunga deposito saat ini berada di kisaran 1,9-2,5% untuk bank konvensional, dan 4-6% untuk bank digital.

Apakah masih menguntungkan menyimpan uang di deposito? Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho mengungkapkan bunga deposito di bank terus turun dan semakin kecil, bahkan lebih kecil daripada tingkat inflasi.

Oleh karena itu dalam memilih jenis simpanan, masyarakat perlu melihat kebutuhan dan apa saja yang bisa didapatkan dengan pilihan itu.

"Kalau dilihat dari inflasi, semakin lama makin kecil. Hanya saja deposito ada fitur yang bisa mengunci simpanan tapi juga tetap likuid," kata dia kepada detikcom, Jumat (17/6/2022).

Dia mengungkapkan untuk tingkat keamanan, deposito memang paling aman dan berisiko rendah dibandingkan reksa dana atau saham. Namun, imbal hasil yang didapatkan memang lebih kecil dibandingkan instrumen investasi lainnya.

"Meskipun imbal hasilnya deposito kurang menarik, tapi ada keunggulan lain seperti simpanan jangka panjang yang aman," jelas dia.

Taruh Uang di Obligasi

Jika memang ingin menyimpan uang dan mendapatkan imbal hasil menarik, bisa melirik obligasi ritel atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN/Sukuk Negara). Imbal hasil obligasi ritel, contohnya ORI021 4,9% per tahun.

Lalu untuk SBR011 di kisaran 5,5% pada periode pertama. Kemudian ada penyesuaian pada akhir tahun menjadi 6,5%.

"Ini karena tingkat keamanan investasi yang sedikit risiko, tapi imbal hasilnya lebih menarik dari deposito," ujar dia.

Reksa Dana Bisa Jadi Pilihan

Setelah itu, jika sudah berani dan ingin mencoba peruntungan imbal hasil yang lebih baik bisa mulai masuk ke reksa dana tapi bisa jenis pasar uang atau pendapatan tetap, jangan langsung kategori saham.

Selanjutnya, bisa naik level ke reksa dana pasar saham atau langsung terjun ke saham. "Pokoknya, sebelum investasi itu harus paham dulu risikonya, jangan sampai bunga tinggi tapi risiko juga tinggi membuat kita tidak enak makan," jelas dia.

Andy mengungkapkan, ada juga jenis tabungan yang bisa memberi keuntungan seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) yang imbal hasilnya juga menarik. Memang DPLK ini memiliki jangka waktu tertentu untuk penyimpanannya, sehingga uang tak bisa ditarik kapan saja dan harus menunggu waktu selesai.

(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT