Benarkah Rupiah Masih Lebih Baik Lawan Dolar AS?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 24 Jun 2022 05:30 WIB
Melanjutkan tren positif sejak Selasa kemarin, nilai tukar rupiah menguat melawan dolar AS.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Nilai tukar rupiah beberapa waktu terakhir mengalami tekanan akibat penguatan dolar AS. Data Bank Indonesia (BI) menyebutkan per 22 Juni 2022 nilai tukar rupiah terdepresiasi 1,93% dibandingkan akhir Mei 2022.

Dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) tercatat dolar AS menguat hingga ke posisi Rp 14.860. Tekanan ini terjadi sejak 3 Juni 2022 di mana dolar AS tercatat Rp 14.431.

Dengan perkembangan ini, nilai tukar Rupiah sampai dengan 22 Juni 2022 terdepresiasi sekitar 4,14% year to date dibandingkan dengan level akhir 2021.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan depresiasi ini sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Apalagi banyak negara yang kebijakan moneternya semakin agresif dan ketat.

Memang negara tersebut menempuh langkah pengetatan sebagai respon dari naiknya tekanan inflasi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia.

Perry menyebut tekanan ini masih lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang di negara lain. "Misalnya India yang depresiasi 5,17%, Malaysia 5,44% dan Thailand 5,48%," ujar dia dalam konferensi pers, Kamis (23/6/2022).

Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati perkembangan pasokan valas dan memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi.

"BI juga mencatat aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik mencatat net inflows sebesar US$ 1,5 miliar pada kuartal II 2022 hingga 21 Juni 2022 di tengah peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global," jelas dia.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan saat ini kondisi nilai tukar rupiah masih bergerak stabil dibandingkan mata uang negara lainnya.

"Sekarang BI punya triple intervention yaitu pasar saham, SBN dan non deliverable forward (DNDF) jika kondisi memaksa masuk ke sana. Kita jalankan hati-hati sesuai dengan mekanisme pasar dan fundamental," jelas dia.



Simak Video "Duh! Rupiah Makin Keok, Dolar AS Nyaris Rp 15.000"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)