ADVERTISEMENT

BI Checking Bermasalah, Apa Dampak yang Akan Dirasakan?

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Senin, 27 Jun 2022 19:30 WIB
Ilustrasi kredit mobil
Ilustrasi BI Checking/Foto: Shutterstock
Jakarta -

Membahas tentang kredit bank, mungkin kita tidak asing lagi dengan istilah dengan BI Checking. Tapi, saat ini BI Checking sudah digantikan dengan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau SLIK OJK.

SLIK adalah sebuah catatan informasi riwayat debitur bank dan lembaga keuangan lainnya. Dulunya SLIK dikenal dengan nama Sistem Informasi Debitur (SID) BI atau BI checking .Namun, hingga saat ini masyarakat banyak yang masih menyebutnya dengan BI Checking dibanding SLIK OJK.

SLIK OJK adalah salah satu indikator untuk analisa pengajuan kredit. Dari SLIK ini, bisa ditentukan skor kredit atau kepatuhan seorang debitur dalam pembayaran kreditnya.

SLIK OJK atau BI Checking merupakan salah satu hal yang menakutkan bagi beberapa debitur perbankan. Biasanya data SLIK ini, jadi salah satu perhitungan bank atau lembaga keuangan ketika ingin menyalurkan kredit. Mengapa? karena bank bisa saja menolak pengajuan kredit, jika debitur memiliki catatan kredit yang buruk.

Apa akibatnya jika seseorang terkena sanksi BI Checking?

Cara yang dapat dilakukan pertama kali ketika terkena sanksi BI Checking adalah mengecek nama yang digunakan untuk berurusan dengan pihak leasing tersebut kepada pihak Bank Indonesia (BI).

Layanan SLIK ini dapat diakses secara online melalui website konsumen.ojk.go.id/ministedplk/registrasi. Laman tersebut merupakan situs resmi dari OJK. Nah, melalui layanan SLIK ini kamu dapat mengetahui apakah masih ada tanggungan/kewajiban yang masih belum terbayarkan atau tidak.

Dampak Sanksi BI Checking yang kini SLIK OJK

Berdasarkan catatan detikcom Perencana Keuangan Andi Nugroho menjelaskan, yang terjadi jika seseorang tidak melunasi utang di bank atau lembaga keuangan adalah memiliki skor yang buruk di regulator.

Menurutnya jika penilaian pada SLIK ini buruk. Maka peminjam akan mendapatkan sanksi yakni sulit mendapatkan akses kredit, dari bank dan lembaga keuangan ke depannya. Seperti masuk blacklist jika memang utang tidak dilunasi.

"Kalau skornya buruk, akan sulit. Misalnya ada tagihan kartu kredit tidak lunas ratusan ribu saja. Akan pengaruh tidak bisa ambil KPR atau kredit kendaraan misalnya. Ini akan menyulitkan ke depan," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Meski sudah masuk dalam daftar hitam atau blacklist, debitur sebenarnya masih bisa mendapatkan mengajukan pinjaman lagi dari bank maupun lembaga keuangan lainnya. Dengan catatan harus atau sudah melunasi seluruh utang ditambah bunga dan dendanya.

Setelah debitur mengecek data di SLIK, dan apabila masih ada kewajiban yang belum terselesaikan, debitur dapat mengecek kembali berapa jumlah kewajiban yang belum terbayarkan kepada pihak leasing dan berapa bulan keterlambatannya. Ingat. semakin lama kewajiban tidak terbayarkan maka denda juga akan semakin membesar, lakukan dengan segera.

Selanjutnya, setelah sudah melakukan pelunasan kewajiban sebelumnya pastikan kamu mendapatkan surat yang menyatakan bahwa kewajiban kamu telah terselesaikan lalu cek ulang data di dalam SLIK, apakah sudah bersih atau belum. Biasanya akan dibutuhkan waktu sebelum BI mengupdate data SLIK kamu.

Meski demikian, surat yang didapatkan dari pihak leasing dapat menjadi bukti telah menyelesaikan kewajiban dan dapat membersihkan nama kamu. Dengan bersihnya nama dari catatan BI Checking atau SLIK OJK, di dalam kewajiban yang terselesaikan maka kamu dapat mengajukan kredit baru untuk kebutuhan lainnya.

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT