ADVERTISEMENT

Aneh Banget! Inflasi Nyaris 80%, Turki Malah Pangkas Suku Bunga

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 19 Agu 2022 07:45 WIB
Turkish Flag on cloudy blue sky.The flag is waving due to heavy wind.On the background white clouds are seen.Up right side of frame is blue sky.No people are seen in frame.
Bank Sentral Turki Pangkas Suku Bunga Saat Inflasi Nyaris 80%, Biar Apa?/Foto: Getty Images/iStockphoto/selimaksan
Jakarta -

Kebijakan mengejutkan dilakukan oleh Bank Sentral Turki (Central Bank of The Republic of Turkey/CBRT). Suku bunga acuan bank sentral dipangkas di tengah laju inflasi yang masih tinggi mendekati 80%.

Tingkat suku bunga acuan yang tadinya berada di 14% selama tujuh bulan terakhir, dipangkas menjadi 13%. Kebijakan ini dinilai keliru dan sangat jauh berbeda dengan apa yang dilakukan bank sentral lain di seluruh dunia.

"Langkah bodoh lainnya. Gila dengan inflasi hampir 80%, CBRT memangkas suku bunga, terhadap ekspektasi sebesar 100 bps menjadi hanya 13%," kata Timothy Ash, ahli strategi pasar negara berkembang senior di BlueBay Asset Management dilansir dari CNBC, Jumat (19/8/2022).

Para analis sebelumnya memang memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga, maka dari itu langkah bank sentral Turki yang lebih rendah telah mengejutkan pasar.

CBRT dalam pernyataan resminya mengatakan komite mengharapkan proses penurunan inflasi telah dimulai. Mereka juga menyatakan ada sinyal hilangnya momentum dalam kegiatan ekonomi apabila suku bunga terus menerus terlalu tinggi. Seiring dengan pemangkasan suku bunga tersebut, nilai tukar Lira langsung anjlok 0,9% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

"Ini langkah konyol. Jelas mereka punya uang tunai di saku mereka dari Rusia dan berpikir mereka bisa menurunkan suku bunga plus menahan Lira," kata Timothy Ash.

Selain itu, Indeks utama Turki BIST telah menghentikan kenaikan pada sesi perdagangan. Indeks BIST turun menjadi lebih rendah sebesar 0,8% setelah keputusan bank sentral diumumkan. Meskipun, kemudian berubah positif, naik 0,2% dalam satu jam berikutnya.

Inflasi Turki untuk pada Juli naik 79,6% dari tahun ke tahun, tertinggi dalam 24 tahun. Hal ini terjadi karena negara itu bergulat dengan melonjaknya biaya makanan dan energi. Mata uang Lira juga terus melemah, lima tahun yang lalu Lira masih diperdagangkan pada 3,5 Lira per Dolar, sekarang lebih dari 18 banding 1.

Lonjakan harga konsumen telah memukul masyarakat Turki, dan hanya sedikit yang memiliki harapan untuk perbaikan dalam waktu dekat berkat perang Rusia-Ukraina. Pasalnya, perang membuat harga energi dan pangan makin tinggi, ditambah lagi Lira terus menerus melemah tajam.

Turkey's President Recep Tayyip Erdogan looks up during a joint news conference with German Chancellor Angela Merkel following their meeting at Huber Villa presidential palace, in Istanbul, Turkey, Saturday, Oct. 16, 2021. The leaders discussed Ankara's relationship with Germany and the European Union as well as regional issues including Syria and Afghanistan. (AP Photo/Francisco Seco)Recep Tayyip Erdogan Foto: AP/Francisco Seco

Salah Kebijakan Erdogan

Turki telah menikmati pertumbuhan pesat di tahun-tahun sebelumnya, tetapi Erdogan selama beberapa tahun terakhir menolak untuk memperketat kebijakan untuk mendinginkan inflasi yang dihasilkan kegiatan ekonomi.

Hasilnya adalah mata uang yang anjlok dan daya beli yang jauh lebih sedikit bagi rata-rata orang Turki. Lira telah kehilangan 26% nilainya terhadap Dolar tahun ini, dan jatuh 80% terhadap Dolar dalam lima tahun terakhir.

Erdogan menginstruksikan bank sentral negara itu, yang menurut para analis tidak memiliki independensi darinya, untuk secara konsisten memangkas suku bunga pinjaman pada 2020 dan 2021, bahkan ketika inflasi terus meningkat.

Kepala bank sentral yang menyatakan oposisi pun dipecat pada musim semi 2021. CBRT telah melakukan penggantian empat gubernur berbeda dalam dua tahun.

Pemerintah Turki saat ini menggunakan berbagai metode tidak konvensional untuk mencoba menopang Lira. Sebagian besar melibatkan pengeluaran cadangan devisa yang signifikan atau memblokir pinjaman Lira kepada perusahaan yang dianggap memegang terlalu banyak mata uang asing.

(hal/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT