Cadangan Devisa RI Diprediksi Bertambah US$ 6,8 Miliar 2006
Selasa, 27 Jun 2006 13:33 WIB
Jakarta - Meski sebagian dipakai untuk melunasi utang ke IMF, namun cadangan devisa Indonesia diprediksi masih bisa bertambah pada tahun 2006.Menkeu Sri Mulyani mengungkapkan, posisi cadangan devisa hingga akhir tahun 2006 diperkirakan meningkat US$ 6,8 miliar menjadi US$ 41,5 miliar. Per akhir tahun 2005 lalu, cadangan devisa Indonesia mencapai US$ 34,7 miliar.Cadangan devisa US$ 41,5 miliar itu setara dengan 4,7 bulan impor dan pembayaran cicilan utang luar negeri pemerintah.Sri Mulyani menjelaskan, cadangan devisa tersebut meningkat karena adanya surplus transaksi berjalan dan surplus transaksi modal.Surplus transaksi berjalan pada tahun 2006 diperkirakan mencapai US$ 1,9 miliar, atau 0,6 persen PDB. Lebih tinggi dari surplus transaksi berjalan pada tahun 2005 yang mencapai US$ 0,9 miliar, atau 0,3 persen PDB.Surplus transaksi berjalan bersumber dari peningkatan ekspor sebesar US$ 95 miliar atau lebih tinggi dari impor dan defisit neraca jasa-jasa yang masing-masing sebesar US$ 60,9 miliar dan US$ 23,2 miliar."Peningkatan ekspor itu terutama didorong oleh meningkatnya ekspor non migas dan migas masing-masing sebesar US$ 70,8 miliar dan US$ 24,2 miliar," urai Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (27/6/2006).Di sisi lain, peningkatan impor terkait dengan meningkatnya impor non migas dari US$ 47,9 miliar pada tahun 2005 menjadi US$ 53,7 miliar pada tahun 2006. Sementara impor migas meningkat dari US$ 15,9 miliar menjadi US$ 16,2 miliar.Dari sisi neraca modal juga diperkirakan mengalami surplus sebesar US$ 5 miliar dibandingkan dengan defisit neraca modal pada tahun 2005 sebsar US$ 3,9 miliar.Sri Mulyani menambahkan, membaiknya iklim investasi dan juga potensi keuntungan dalam bentuk spread antara suku bunga dalam negeri dan suku bunga internasional merupakan faktor yang menyebabkan surplus neraca modal.Cadangan Devisa 2007Untuk cadangan devisa tahun 2007 diperkirakan mencapai US$ 43,8 miliar, atau setara dengan 5 bulan imopor dan pembayaran cicilan utang luar negeri.Sri Mulyani menjelaskan, bertambahnya cadangan devisa disebabkan oleh meningkatnya ekspor non migas, masuknya penanaman modal asing dan portofolio, serta kegiatan investasi asing terkait pembangunan infrastruktur."Dengan adanya ketersediaan cadangan devisa, stabilitas neraca pembayaran serta efektivitas kebijakan moneter, maka nilai tukar rupiah dalam tahun 2007 yang diperkirakan berada pada kisaran 9.000-9.500 per dolar AS dapat terjaga kestabilannya," urainya.Sri Mulyani menegaskan, stabilitas nilai tukar mempunyai peranan penting terhadap pencapaian sasaran inflasi pada tahun 2007 dan perkembangan suku bunga perbankan.
(qom/)











































