ADVERTISEMENT

OJK Beri Tips Tangkis Soceng Biar Tabungan Nggak Ludes!

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Selasa, 13 Sep 2022 11:45 WIB
Anggota Dewan Komisioner OJK bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Friderica Widyasari Dewi
Foto: Screenshoot YouTube OJK
Jakarta -

Social engineering atau soceng menjadi hal yang perlu diwaspadai oleh masyarakat. Baru-baru ini, kasus yang marak adalah penawaran untuk menjadi nasabah prioritas dari sebuah entitas bank.

Anggota Dewan Komisioner OJK bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Friderica Widyasari Dewi mengatakan social engineering atau rekayasa sosial merupakan salah satu modus kejahatan dengan memanipulasi kondisi psikologis korban. Lalu. bagaimana cara masyarakat menghindari aksi social engineering atau soceng ini? Ini tips dari wanita yang akrab disapa Kiki itu.

"Pertama jangan mengumbar data pribadi kita kepada siapapun, apalagi di dunia maya, di online. Kita suka lihat ada orang main Instagram memposting foto KTP, alamat rumah dan nama ibunya, NIK juga jangan disebar," Jelas Kiki dalam tayangan YouTube OJK BiSa, dikutip Selasa (12/9/2022).

Selain itu, Kiki menyarankan masyarakat untuk memanfaatkan fitur notifikasi transaksi pada aplikasi perbankan. Penting juga untuk mengaktifkan two step verification pada semua aplikasi keuangan, misalnya menggunakan PIN dan sidik jari.

"Jadi kita ada check and recheck dulu dan ada pengamannya untuk kita," terang Kiki.

Ia menekankan dalam menghadapi social engineering penting untuk menyadari kondisi dari peristiwa yang terjadi. Masyarakat harus bisa membedakan umpan dari penipu yang membuat perasaan jadi terlalu senang atau panik. Misalnya, penipuan menggunakan pengumuman tentang menang undian atau informasi kalau rekening korban dibobol.

Kiki mengingatkan soceng dapat menghampiri siapa saja, bahkan yang bekerja di industri keuangan sekalipun. Sebab, penipuan ini memanfaatkan kondisi saat korban tidak dapat berpikir jernih dan membuat keputusan dengan rasional.

"Modus yang marak misalnya penawaran nasabah prioritas, kedua adalah terkait adanya pengenaan biaya transfer yang tidak masuk akal," ungkap Kiki.

Kemudian, modus lainnya adalah pengumuman mendapatkan undian berhadiah dan voucher belanja. Terakhir, modus penipuan soceng adalah penawaran menjadi agen laku pandai.

"Intinya adalah, kita harus berpikir rasional, perlu cek dan verifikasi dulu," pesan Kiki.

Tonton juga Video: Hati-hati Tren "Galbay" Debitur Pinjol Ilegal

[Gambas:Video 20detik]



(akn/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT