Inggris Banjir Kritik Imbas Pound Sterling yang Terus Menukik

ADVERTISEMENT

Inggris Banjir Kritik Imbas Pound Sterling yang Terus Menukik

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 28 Sep 2022 21:35 WIB
BATH, UNITED KINGDOM - SEPTEMBER 25: In this photo illustration, British GDP £1 coins and bank notes are pictured on September 25, 2022 in Bath, England. The UK pound sterling fell to its lowest level against the U.S. dollar since 1985, as concerns grew at the prospect of a surge in the UK government borrowing to pay for the multiple tax cuts, announced in Conservative Party chancellor Kwasi Kwarteng’s mini-budget. The fall in the value of sterling is also contributing to the UKs cost of living crisis, as inflation hits a near-30-year high. (Photo Illustration by Matt Cardy/Getty Images)
Foto: (Getty Images/Matt Cardy)
Jakarta -

Mata uang Pound Sterling jatuh ke level terendahnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini menuai kecaman, khususnya kepada pemerintahan baru.

Di AS, kritik dipimpin oleh mantan menteri keuangan AS Larry Summers. Lewat akun Twitternya, dia menulis kebijakan Inggris sama sekali tidak bertanggung jawab.

Dalam cuitannya, ia pun pun mengungkapkan keterkejutannya terhadap kondisi pasar yang bereaksi cepat ke arah yang buruk. Kondisi ini menyebabkan hilangnya tingkat kredibilitas.

Utas panjangnya diakhiri dengan prediksi suram bahwa krisis keuangan di Inggris tidak hanya akan berdampak pada kelangsungan London sebagai pusat keuangan global. Tetapi juga dapat menimbulkan konsekuensi ke tingkat global.

Dalam majalah New Yorker, jurnalis ekonomi John Cassidy menulis krisis Inggris semakin mengganggu setelah kematian Ratu Elizabeth II. Inggris menghadapi krisis mata uang yang disebutnya 'memalukan'.

Dia mengatakan bahwa Perdana Menteri Liz Truss dan kanselirnya, Kwasi Kwarteng, telah menjerumuskan ekonomi Inggris dan membuatnya jadi kacau. Padahal kondisi ini seharusnya tidak terjadi.

Meskipun Inggris telah melalui banyak kesengsaraan dalam beberapa tahun terakhir, namun ekonomi Inggris adalah yang terbesar keenam di dunia. London juga menjadi pusat keuangan terbesar di dunia.

Cassidy menilai jika pemerintahannya kompeten, tekanan terhadap mata uang terasa minimal. Sayangnya hal tersebut tak dapat terpenuhi.

Di Irlandia, komentator mengatakan bahwa "krisis Inggris" jelas menjadi bumerang. Mereka mendesak pemerintah Irlandia, yang akan mengumumkan anggarannya pada hari Selasa, untuk memperhatikan pelajaran tersebut.

Pengeluaran tambahan dan langkah-langkah pajak untuk melindungi rumah tangga dan bisnis Irlandia diperkirakan menelan biaya sekitar € 11 miliar (£ 10 miliar). Namun tak seperti Inggris, Dublin memiliki surplus fiskal.

Di Jerman, koresponden ekonomi harian Frankfurter Allgemeine Zeitung yang berbasis di London, Philip Plickert, mengatakan bahwa Kwarteng harus berkonsultasi dengan buku-buku sejarah sekali lagi untuk melihat betapa berbahayanya peningkatan defisit.

Menteri keuangan Jerman, Christian Lindner mengatakan bahwa bahwa dia akan menunggu untuk mengambil pelajaran dari apa yang Inggris lakukan. Inggris disebutnya menginjak gas sementara bank sentral menginjak rem.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT