Perbankan Tidak 'Menikmati' Kenaikan Peringkat RI
Rabu, 26 Jul 2006 15:29 WIB
Singapura - Meski peringkat utang Indonesia naik, namun perbankan tidak serta-merta menikmatinya. Banyak kendala yang masih dihadapi perbankan di Indonesia.Standard and Poor's (S&P) dalam siaran pers, Rabu (26/7/2006) mengatakan, sektor perbankan Indonesia masih akan menghadapi sejumlah tantangan seperti melambatnya pertumbuhan kredit seiring tingginya suku bunga.S&P sendiri pada hari ini telah menaikkan peringkat utang jangka panjang dalam valas Indonesia dari B+ menjadi BB-. Sementara utang jangka panjang dalam mata uang lokal naik dari BB menjadi BB+. Sementara peringkat utang jangka pendek tetap B, dengan outlook tetap 'stabil'.Dengan tidak berpengaruhnya kenaikan peringkat utang itu, maka peringkat bank-bank itu adalah: Bank Danamon (BB-/Stabil/B), Bank Mandiri (BB-/Stabil/B), BNI (B+/Stabil/B) dan BII (B+/Stabil/B).S&P menyatakan, selama lima bulan pertama tahun 2006, pertumbuhan kredit paling rendah hanya 1,5 persen dibandingkan angka 10 persen pada periode yang sama tahun lalu.Melambatnya pertumbuhan kredit dan juga meningkatnya cost of fund telah menggerus pendapatan bersih bank-bank. Sektor ini juga menghadapi dampak berkurangnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga BBM Oktober 2005 lalu."Kredit konsumer telah menjadi kunci penggerak fokus sistem kredit," ujar analis S&P Adrian Chee.Tingginya suku bunga juga dinilai memberi kontribusi yang signifikan terhadap kenaikan NPL di dalam portofolio kredit perbankan.
(qom/)











































