Wah! Dana Asing Tiba-tiba Ramai Masuk RI, Ini Buktinya

ADVERTISEMENT

Wah! Dana Asing Tiba-tiba Ramai Masuk RI, Ini Buktinya

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 05 Des 2022 12:23 WIB
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah kembali naik tinggi, mendekati Rp 15.300. Per siang ini pukul 14.45 WIB, dolar AS tercatat tembus ke level Rp 15.265.
Dolar AS (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Pasar keuangan Indonesia mulai diserbu investor asing (inflow) melalui pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham. Padahal sebelumnya modal asing bergerak keluar (outflow) seiring adanya gejolak di tataran global.

Bank Indonesia (BI) mencatat sepanjang 28 November-1 Desember 2022 terjadi aliran modal asing masuk ke pasar keuangan Indonesia sebesar Rp 9,64 triliun. Rinciannya dana asing yang masuk lewat pasar SBN mencapai Rp 8,76 triliun dan pada pasar saham Rp 880 miliar.

"Berdasarkan data transaksi 28 November-1 Desember 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp 9,64 triliun," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangannya, dikutip Senin (5/12/2022).

Jika melihat data setelment sejak 1 Januari-1 Desember 2022 (year to date/ytd), terjadi aliran modal asing yang keluar dari pasar SBN mencapai Rp 155,10 triliun. Sedangkan pada pasar saham secara total terjadi aliran dana asing yang masuk sebesar Rp 78,20 triliun.

Seiring masuknya dana asing pada perdagangan pekan ini, premi risiko investasi atau premi credit default swaps (CDS) Indonesia 5 tahun turun ke level 85,45 bps per 1 Desember 2022, dari sebelumnya di level 93,3 bps per 25 November 2022.

Sementara itu, tingkat imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun turun ke level 6,86% dan yield surat utang AS atau US Treasury 10 tahun turun ke level 3,505%.

Seiring ramai-ramai masuknya dana asing, kurs rupiah nampak menguat sejak sepekan kemarin. Kurs dolar Amerika Serikat (AS) kini sudah berada di zona Rp 15.300-an.

"BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait, serta terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut," tutup Erwin.

(aid/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT