BNI Masih Bergelut Dengan Tingginya Kredit Macet

BNI Masih Bergelut Dengan Tingginya Kredit Macet

- detikFinance
Senin, 31 Jul 2006 14:56 WIB
Jakarta - Bank pelat merah terbesar kedua di tanah air, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) hingga semester I-2006 masih belum bisa keluar dari jeratan tingginya kredit macet atau Non Performing Loan (NPL).Sampai paruh pertama 2006, BNI mencatat NPL gross sebesar 16,58 persen atau Rp 10 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun lalu 12,96 persen.Sedangkan NPL net juga masih diatas persyaratan Bank Indonesia (BI) maksimal 5 persen, yakni sebesar 11,25 persen. NPL net ini lebih tinggi dibandingkan dengan semester I-2005 yang sebesar 7,82 persen.Demikian paparan manajemen BNI mengenai kinerja semester I-2006 dalam jumpa pers di Kantor BNI Pusat, Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (31/7/2006). Masih tingginya NPL tersebut, manajmen BNI berjanji akan mengupayakan percepatan perbaikan NPL menjadi performing loan.Caranya melalui program remedial R-3 yaiatu loan rescheduling, loan reconditioning dan loan restructuring.Manajemen BNI juga sangat berharap ada tindak lanjut dari implementasi paket kebijakan sektor keuangan, yang diluncurkan bersama oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI) pada awal Juli 2006.Paket tersebut diharapkan akan mempercepat upaya perbaikan kualitas kredit di bank pemerintah termasuk BNI secara signifikan.Komposisi NPL BNI masih didominasi sektor korporasi yaitu 51 persen, diikuti segmen usaha menengah sebesar 28 persen, segmen usaha kecil dan mikro sebesar 14 persen, usaha konsumer 6 persen dan usaha syariah 1 persen.Sementara laba bersih BNI semester I-2006 mengalami penurunan 9 persen menjadi Rp 839 miliar, dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 921 miliar.Penurunan laba bersih karena tingginya beban operasional BNI, yang tidak bisa ditutupi dari pendapatan bunga bersih yang hanya naik tipis 1,39 persen.Pendapatan bunga bersih hanya naik tipis dari 3,662 triliun menjadi Rp 3,713 triliun. Begitu pula dengan kredit yang diberikan ikut turun 2 persen menjadi Rp 60,5 triliun dari sebelumnya Rp 61,48 triliun.Sedangkan dana pihak ketiga naik 11 persen dari tahun lalu Rp 105,5 triliun menjadi Rp 116,9 triliun.Rasio kecukupan modal (CAR) dengan risiko kredit sebesar 20,02 persen dan CAR dengan risiko pasar 19,04 persen. Sementara rasio dana pihak ketiga terhadap kredit turun dari 58,27 persen menjadi 51,78 persen. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads