BI Hadapi Dilema Soal BI Rate

BI Hadapi Dilema Soal BI Rate

- detikFinance
Jumat, 04 Agu 2006 10:05 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menghadapi tekanan untuk terus menurunkan suku bunganya. Penurunan suku bunga diyakini mampu menggerakkan sektor riil yang kini sedang 'sekarat'.Namun jika BI menurunkan suku bunga, maka otomatis suku bunga riil di Indonesia akan semakin merosot bila dibandingkan dengan suku bunga luar negeri. Karena dianggap sudah tidak menarik lagi, akan terjadi pelarian modal ke luar negeri."Dilemanya masih sama, masih ada tekanan politis untuk menurunkan suku bunga. Di saat suku bunga di luar negeri kecenderungannya naik, sementara suku bunga Indonesia turun, maka tingkat suku bunga riil akan merosot," ujar anggota Komisi XI DPR RI Dradjad Wibowo dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (4/8/2006).BI dalam beberapa bulan terakhir terus menurunkan BI rate hingga levelnya saat ini yakni 12,25 persen. Sinyal penurunan suku bunga yang lebih besar pun sudah diberikan.Namun demikian, dunia kini sedang menghadapi tren kenaikan suku bunga. Setelah Bank Sentral AS mengkampanyekan rangkaian kenaikan suku bunga, kini giliran Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Inggris yang mengikuti. Demikian pula Jepang yang akhirnya beranjak dari suku bunga nol persen.Namun senada dengan Deputi Gubernur Senior BI Miranda S Goeltom, Dradjad menilai bahwa ruang gerak untuk menurunkan BI rate masih terbuka. Dradjad memprediksi penurunan BI rate 25-50 basis poin masih tergolong level yang cukup aman."Itu masih reasonable, masih bisa diterima. Setelah suku bunga turun 25-50 sementara rupiah relatif stabil. Itu relatif aman," tuturnya.Faktor ekspektasi pasar ke depan tetap harus dicermati oleh BI, karena setelah suku bunga turun, semakin tipis nilai suku bunga riil di Indonesia. (ddn/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads