BI Masih Akan Turunkan BI Rate
Selasa, 08 Agu 2006 15:58 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) masih membuka peluang penurunan BI rate hingga akhir tahun 2006, karena melihat inflasi yang cenderung turun dan mengarah ke posisi kurang dari 8 persen.Sementara dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI hari ini, diputuskan penurunan BI rate hingga 50 basis poin menjadi 11,75 persen. "Ruang penurunan senantiasa ada. Masih ada pelaksanaan (RDG) beberapa bulan kedepan sampai akhir tahun, kita meyakini iflasi akan lebih mild (ringan) sedikit lebih rendah dari yang kita perkirakan yaitu 8 plus minus 1 persen," kata Direketur Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI, Budi Mulya,di kantornya, Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (8/8/2006).Ruang penurunan BI rate yang akan dilakukan tersebut, juga melihat tekanan dan faktor eksternal yang cenderung melemah, seperti The Fed yang mulai menahan kenaikan suku bunganya.Secara umum, ungkap Budi, perkembangan perekonoman selama bulan Juli memberikan keyakinan bahwa stabilitas makro ekonomi semakin menguat.Terlihat dari nilai tukar rupiah dengan volatilitasnya yang terjaga. Rupiah rata-rata menguat 2,55 persen dari Rp 9.370 per dolar AS pada bulan Juni menjadi Rp 9.131 per dolar AS di bulan Juli 2006.Selain itu daya tahan perekonomian domestik terhadap gejolak kenaikan harga minyak dunia juga semakin kuat, seperti ditunjukkan oleh adanya surplus neraca perdagangan migas dan ketahanan fiskal pascakenaikan BBM.Perkembangan positif tersebut, ungkap Budi, direspons oleh pasar dalam bentuk aliran modal jangka pendek yang masuk mencapai US$ 1,1 miliar selama bulan Juli. Hal ini berdampak pada meningkatnya cadangan devisa Indonesia menjadi US$ 41,8 miliar pada minggu pertama Agustus 2006.Kondisi saat ini juga, lanjut Budi, menyebabkan peningkatan penyaluran kredit di bulan Juni yakni hampir Rp 10 triliun sehingga menjadi Rp 757,3 triliun pada akhir Juni 2006.Namun jika dibandingkan posisi Desember 2005 memang kenaikan kredit perbankan baru mencapai Rp 27,2 triliun atau tumbuh hanya 3,72 persen. Sementara sumber pembiayaan non bank seperti saham, obligasi dan lembaga keuangan non bank lainnya juga menunjukkan peningkatan. Selama semester I-2006 nilai emisi saham meningkat Rp 7,4 triliun dan emisi obligasi naik Rp 4,9 triliun. Sementara dari pembiayaan eksternal dari luar negeri kepada sektor swasta juga mengalami peningkatan yakni sebesar US$ 705 juta pada Juni 2006.
(ir/)











































