Bos BI Minta Perbankan Tak Buru-buru Naikkan Bunga Kredit

ADVERTISEMENT

Bos BI Minta Perbankan Tak Buru-buru Naikkan Bunga Kredit

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 19 Jan 2023 16:29 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo
Foto: Gubernur BI Perry Warjiyo (Sylke Febrina Laucereno/detikcom)
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI 7days reverse repo rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan kenaikan bunga ini adalah langkah lanjutan secara front loaded, pre-emtive dan forward looking untuk memastikan terus berlanjutnya penurunan ekspektasi inflasi dan inflasi ke depan.

Dengan naiknya bunga acuan ini, akan mempengaruhi suku bunga perbankan baik deposito maupun bunga kredit.

Perry mengatakan meskipun secara akumulasi BI sudah menaikkan bunga acuan 225 bps sejak Agustus 2022 hingga Januari 2023, likuiditas di perbankan itu lebih longgar. Sebab sejak bunga acuan naik, bunga kredit hanya naik 0,21%.

BI mengimbau agar perbankan tidak buru-buru menaikkan suku bunga kredit, karena berlebihnya likuiditas perbankan.

"Suku bunga deposito tidak harus ditransmisikan ke bunga kredit. Kami terima kasih nih ke bankir yang tidak menaikkan bunga kredit. Kalau 0,21% (masih) wajar," ujarnya.

Perry menjelaskan di pasar uang, suku bunga IndONIA pada 18 Januari 2023 naik 222 bps dibandingkan dengan level akhir sebelum kenaikan BI7DRR di bulan Juli 2022 menjadi sebesar 5,02%, sejalan dengan kenaikan BI7DRR dan penguatan strategi operasi moneter Bank Indonesia.

Imbal hasil SBN tenor jangka pendek meningkat 55 bps, sedangkan imbal hasil SBN tenor jangka panjang tetap terkendali.

Sekadar informasi suku bunga deposito 1 bulan pada Desember 2022 tercatat 3,97% atau meningkat 108 bps dibandingkan dengan level Juli 2022, sementara suku bunga kredit Desember 2022 tercatat 9,15% atau meningkat 21 bps dibandingkan dengan level Juli 2022.

"Kenaikan suku bunga perbankan yang terbatas tersebut dipengaruhi oleh masih longgarnya likuiditas perbankan, termasuk karena dukungan kebijakan Bank Indonesia yang memberikan insentif Makroprudensial berupa pengurangan GWM bagi bank yang menyalurkan kredit kepada sektor prioritas dan inklusif," imbuh dia.

Bank Indonesia akan terus mendorong perbankan untuk membentuk suku bunga kredit yang efisien, akomodatif, dan kompetitif yang dapat mendukung pemulihan ekonomi.

(kil/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT