The Fed Stop Kenaikan Suku Bunga
Rabu, 09 Agu 2006 08:53 WIB
Washington - Bank Sentral AS (The Fed) akhirnya menghentikan sementara rangkaian kenaikan suku bunga AS yang sudah berlangsung selama dua tahun. Keputusan itu diambil dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Selasa, 8 Agustus di Washington."Federal Open Market Committee pada hari ini memutuskan untuk mempertahankan target suku bunga pada 5,25 persen," demikian pernyataan dari The Fed seperti dikutip dari AFP, Rabu (9/8/2006).FOMC menilai bahwa perekonomian AS sudah tumbuh cukup moderat, yang sebagian merefleksikan melambatnya pasar perumahan secara bertahap dan efek dari kenaikan suku bunga dan juga kenaikan harga energi.Namun pada pada saat yang bersamaan, inflasi terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. "Komite juga menilai bahwa beberapa risiko inflasi masih ada," demikian pernyataan dari FOMC.FOMC memberi sinyal bahwa masih ada ruang untuk kenaikan suku bunga AS lagi jika diperlukan dalam beberapa bulan mendatang."Tingkat dan waktu untuk tambahan (kenaikan suku bunga) yang mungkin diperlukan untuk mengatasi risiko-risiko tersebut tergantung pada perkembangan inflasi dan pertumbuhan ekonomi ke depan sesuai dengan informasi yang akan datang," demikian pernyataan FOMC. The Fed telah mengkampanyekan rangkaian kenaikan suku bunga 25 basis poin sejak Juni 2004 dalam rangka melawan inflasi. Sebelum rangkaian kenaikan itu, suku bunga AS mencapai level terendah dalam 45 tahun terakhir yakni sebesar 1 persen. Dengan rangkaian kenaikan yang telah berlangsung sebanyak 17 kali, kini suku bunga AS mencapai 5,25 persen.Pelaku pasar sebelumnya meyakini bahwa The Fed harus menghentikan paling tidak untuk sementara rangkaian kenaikan suku bunga itu. Pasalnya, data-data perekonomian AS betul-betul tidak menggembirakan.Tengok saja laporan angka pengangguran yang meningkat dari 4,6 persen menjadi 4,8 persen pada Juli 2006. Sementara tingkat pertumbuhan ekonomi terpangkas dari 5,6 persen pada triwulan I-2006 menjadi hanya 2,5 persen selama triwulan II-2006.Namun AS juga menghadapi ancaman dari sisi inflasi. Ditambah lagi ada kejadian penghentian produksi minyak BP PLC di Alaska yang mengganggu produksi sekitar 400.000 barel per hari.Gangguan produksi hingga 2,6 persen dari total produksi minyak AS itu dikhawatirkan bisa memicu inflasi.
(qom/)











































