Jika Lunasi Utang ke IMF, Cadangan Devisa Tersisa US$ 39,5 M

Jika Lunasi Utang ke IMF, Cadangan Devisa Tersisa US$ 39,5 M

- detikFinance
Senin, 11 Sep 2006 12:00 WIB
Jakarta - Jika semua utang ke IMF dilunasi, maka cadangan devisa Indonesia pada akhir tahun 2006 akan tersisa US$ 39,5 miliar. Angka ini masih lebih tinggi US$ 4,8 miliar dibandingkan cadangan devisa akhir tahun 2005 yang sebesar US$ 34,7 miliar.Demikian disampaikan Menkeu Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR membahas asumsi dasar makro ekonomi tahun 2007 di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (11/9/2006).Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah mengatakan, tanpa perhitungan pelunasan utang ke IMF, maka cadangan devisa hingga akhir tahun 2006 mencapai US$ 43 miliar."Kalau Ibu Menteri Keuangan tadi keluar dengan angka US$ 39,5 miliar, itu setelah menghitung kalau kita melakukan pembayaran terakhir ke IMF," jelas Burhanuddin.Seperti diketahui, Indonesia pada Juni lalu telah membayar separuh utang ke IMF senilai US$ 3,7 miliar. Sri Mulyani menambahkan, meningkatnya cadangan devisa Indonesia pada tahun 2006 bersumber dari peningkatan surplus transaksi berjalan dari US$ 0,3 miliar dalam tahun 2005 menjadi US$ 4,9 miliar. Peningkatan surplus ini terjadi karena adanya peningkatan ekspor non-migas seperti mesin, peralatan listrik, bahan baku mineral, dll. Peningkatan cadangan devisa, lanjut Menkeu, juga disebabkan oleh meningkatnya surplus neraca modal dari yang asalnya defisit US$ 3,1 miliar dalam tahun 2005 menjadi surplus US$ 3,3 miliar. "Surplus neraca modal antara lain terkait dengan penerbitan bond valas dan meningkatnya pembelian SUN oleh investor asing," tambahnya.Dengan demikian, lanjut dia, ada pembalikan kepercayaan dari investor asing sehingga ada capital inflow. Meski sebagian orang beranggapan bahwa investasi yang masuk merupakan investasi yang sifatnya jangka panjang. Nilai Tukar RupiahTerkait hal tersebut, nilai tukar rupiah untuk tahun 2006 diprediksi mencapai 9.300 per dolar AS, atau menguat dibandingkan perkiraan dalam APBN sebesar 9.900 per dolar AS. Burhanuddin menambahkan, faktor yang mempengaruhi penguatan rupiah tersebut adalah meningkatnya ekspor dengan masuknya investasi portofolio tahun 2006 yang menyebabkan rupiah menguat dari periode sebelumnya. Realisasi rata-rata posisi rupiah dari Januari sampai Agustus sebesar 9.180 per dolar AS, menguat dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 9.530 per dolar AS.Cadangan devisa hingga Agustus mencapai US$ 42 miliar. Menurut Burhanuddin, apabila selama 4 bulan ke depan nilai tukar rupiah relatif stabil, maka rata-rata selama tahun 2006 sebesar 9.300, optimistis dapat tercapai, bahkan lebih rendah dari yang diperkirakan. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads