RI Perlu Pertimbangkan Sistem Moneter Berstandar Emas
Selasa, 19 Sep 2006 14:22 WIB
Jakarta - Sistem moneter yang dianut Indonesia dinilai masih memiliki kelemahan fundamental. Indonesia disarankan untuk menerapkan konsep sistem moneter berstandar emas.Dengan konsep itu, sejak uang kertas dan uang logam dicetak, harus didukung dengan cadangan emas senilai uang yang dicetak tersebut.Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Mahmud Thoha dalam seminar sehari bertajuk 'Menata Perekonomian Indonesia Pasca Krisis' di Gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (19/9/2006)."Bila setiap negara menerapkan sistem moneter berstandar emas, berarti seluruh dunia hanya mengenal satu mata uang tunggal meskipun setiap negara bisa tetap memiliki mata uangnya sendiri, misalnya rupiah untuk Indonesia, dolar untuk AS dan euro untuk Uni Eropa," urai Mahmud.Ia menambahkan, implementasi uang emas dapat dimulai dari transaksi keuangan bilateral atau multilateral. Misalnya Indonesia dan Malaysia sepakat menggunakan dinar emas dan transaksi perdagangan bilateralnya. Jika sepakat, maka cadangan emas yang diperlukan untuk mendukung kegiatan tersebut sebenarnya hanya sebesar net payment-nya.Misalnya ekspor Indonesia ke Malaysia dalam satu kuartal sebesar 5 miliar dinar, sedangkan ekspor Malaysia ke Indonesia sebesar 4,8 miliar dinar. Maka cadangan emas yang diperlukan untuk mendukung perdagangan bilateral kedua negara ini bukan 9,8 miliar dinar, melainkan cukup dengan 0,2 miliar dinar yakni selisih nilai ekspor dua negara tersebut.Dalam hal ini, Malaysia perlu membayar 0,2 miliar dinar kepada Indonesia. Itupun bukan berupa pengiriman batang emas sebesar 0,2 miliar dinar, melainkan cukup dengan pemindahbukuan saja sehingga tidak ada aliran emas antarnegara.Menurut Mahmud, sistem moneter yang selama ini dipakai sering dimanfaatkan spekulan sebagai ajang judi di sektor finansial yang pada akhirnya mengakibatkan krisis moneter.
(qom/sss)











































