Penukaran Uang Seceng Dibatasi
Kamis, 12 Okt 2006 10:49 WIB
Solo - Penukaran uang baru pra-lebaran di Bank Indonesia (BI) Solo dipastikan akan meningkat dibanding tahun sebelumnya. Karena peminat uang pecahan seribuan jauh lebih banyak dibanding pecahan yang lainnya, akhirnya BI memberi batas maksimal penukaran. Pemimpin BI Solo, Sutikno mengatakan penukaran uang baru untuk tahun ini telah dilakukan masyarakat jauh lebih awal dibanding tahun-tahun sebelumnya. Semenjak awal September sudah ada yang melakukan penukaran uang. Sepanjang September, BI Solo menerima penukaran uang baru sebesar Rp 7,8 M. Pihak BI Solo membuka penukaran uang baru hanya pada hari Senin dan Kamis. Selama tiga kali penukaran di bulan Oktober yakni tanggal 2, 5 dan 9, BI Solo telah mengeluarkan Rp 8 Miliar uang baru. Jumlah tertinggi penukaran pada tanggal 5 Oktober dengan menerima 850 orang penukar uang sebanyak Rp 4,4 Miliar. "Hari ini kami menyediakan Rp 5 Miliar uang baru. Masyarakat akan kami layani sejak pukul 08.30 WIB hingga 11.30 WIB. Namun jika hingga 11.30 WIB antrian masih banyak, kami akan melayani penukaran hingga antrian habis," ujar Sutikno kepada wartawan, Kamis (12/10/2006). Penyediaan uang baru hingga Rp 5 Miliar itu, lanjutnya, karena diasumsikan penimatnya semakin meningkat dibanding hari-hari sebelumnya. Bahkan pada pekan terakhir puasa, penukaran tidak hanya dilakukan dua kali sepekan, namun empat kali yaitu dari tanggal 16 hingga 19 Oktober. Dalam perkiraannya, dibanding tahun 2005, permintaan uang baru untuk kebutuhan lebaran tahun ini jauh lebih banyak, baik dalam jumlah peminat maupun jumlah uangnya. Tahun 2005 lalu, lanjutnya, BI Solo mengeluarkan Rp 19,4 miliar uang baru. Dia yakin tahun ini angka penukaran mencapai di atas Rp 20 miliar. Pecahan paling diminati warga adalah seribuan dan disusul lima ribuan. Karenanya, meskipun tidak menetukan batas maksimal penukaran, namun khusus penukaran pecahan seribuan BI Solo membatasi maksimal Rp 1 juta bagi setiap penukar. "Alasannya agar merata karena masih banyak peminat. Alasan lain adalah kita masih harus mencukupi kebutuhan hingga akhir tahun," lanjutnya. Pembatasan dan Perdangan UangDari pantauan langsung di BI Jalan Sudirman Solo peminat penukaran uang memang telah membudlak sejak pagi-pagi buta. Barisan antrian penukar terlihat sangat panjang dan harus rela berpanas-panas di bawah terik matahari di hingga halaman gedung dan bahkan mendekati pintu gerbang. Tidak tertutup kemungkinan sebagian dari memperjualbelikannya lagi. Di tempat-tempat strategis kota memang terlihat beberapa orang menawarkan uang baru itu dengan mengambil untung Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu untuk tiap Rp 100 ribu. Adanya kenyataan itu, Sutikno mengatakan pihak BI tidak akan bisa mencegah karena memang BI tidak bisa mendeteksi niat masing-masing penukar uang. Selain itu, transaksi itu dilakukan di luar BI. Hal lebih menyulitkan lagi, kata dia, adalah persoalan kebiasaan buruk masyarakat yang suka mengambil jalan pintas. "Ini persoalan kebiasaan warga kita yang memang suka mengambil jalan pintas. Mereka rela membayar untuk mendapatkan apa yang diinginkannya karena malas melakukan sendiri. Padahal sebetulnya menukarkan sendiri ke BI cukup mudah dan tidak ditarik biaya apapun," kata Sutikno.
(mbr/qom)











































