Kisah Guru Dengan 8 Kartu Kredit
Rabu, 08 Nov 2006 14:09 WIB
Yogyakarta - Punya kartu kredit memang menggiurkan. Gesek sana, gesek sini, belanja dan uang pun mengalir lancar. Tapi apa lacur, kebanyakan gesek dengan kartu kredit malah bisa menjerumuskan.Sebuah kisah guru dengan 8 kartu kredit di Jakarta ini patut menjadi contoh. Karena penghasilan dan angka tagihan kartu kreditnya tak sebanding, sang guru ini pun harus dikejar-kejar debt collector.Si guru itu pun mengadu ke Bank Indonesia. Oleh tim mediasi Bank Indonesia, si guru dipertemukan dengan pihak bank untuk dicarikan penyelesaian masalah utangnya. Dan ternyata total 8 kartu kredit itu hanya menghasilkan tagihan kurang dari Rp 20 juta.Kisah itu diceritakan oleh Deputi Gubernur BI Siti Fadjrijah kepada wartawan usai membuka acara Dialog Interakif Mediasi Perbankan di Gedung BI Yogyakarta, Jl Panembahan Senopati No 4, Yogyakarta, Rabu (8/11/2006)."Ya akhirnya selesai setelah kita turun tangan. Tapi ingat yang kecil-kecil seperti ini bisa seperti cabai rawit pedas sekali dan bisa ngomong kesana-kemari, sehingga perlu dibantu," kata Fadjrijah yang mengaku hanya punya 2 kartu kredit.Kepala BI Semarang Amril Arif pun menceritakan kisah yang sama. Hanya saja, yang terbelit tagihan adalah seorang pengusaha yang memiliki 9 kartu kredit. Namun menurut Arif, setelah dilakukan perundingan dengan fasilitasi dari tim mediasi, kredit macet itu pun akhirnya terselesaikan.Fadjrijah pun berpesan agar bank-bank juga memprioritaskan penyelesaian kredit-kredit kecil ini. Jika tidak, masalah akan semakin berlarut-larut dan menumpuk di bank."Ini banyak terjadi di bank, akibat tidak memprioritaskan atau menomorbelakangkan penyelesaiannya," tandasnya.
(qom/asy)











































