Bank Sentral Thailand Akui Remehkan Respons Pasar Saham

Bank Sentral Thailand Akui Remehkan Respons Pasar Saham

- detikFinance
Selasa, 26 Des 2006 13:05 WIB
Bangkok - Bank Sentral Thailand (Bank of Thailand/BoT) mengaku tidak memperhitungkan bakal mendapat respons yang luar biasa dari investor di pasar saham terkait kebijakan kontrol devisanya."Kami mengantisipasi dampak tertentu di pasar saham. Namun kami tidak memperkirakan akan sebesar itu (dampaknya)," ujar Gubernur BoT Tarisa Watanagase dalam wawancara khususnya dengan Bangkok Post seperti dilansir dari AFP, Selasa (26/12/2006).BoT pada Selasa 19 Desember 2006 lalu, mengeluarkan aturan kontrol devisa yang mewajibkan 30 persen dana asing yang tidak terkait dengan perdagangan harus disimpan di bank. Langkah itu ditempuh dalam rangka menahan spekulasi menyusul terus menguatnya baht.Namun apa lacur. Kebijakan itu justru memicu gelombang aksi jual besar-besaran di pasar saham Thailand. Indeks saham di Stock Exchange of Thailand (SET) pada 19 Desember ditutup anjlok 120,52 poin (16,5 persen) ke level 610,03, dan menembus ke titik terendahnya selama 31 tahun sejarah bursa tersebut. Dalam sehari, pasar saham Thailand kehilangan dana hingga US$ 23 miliar.Untuk meredam gejolak di pasar saham, BoT akhirnya merevisi aturan kontrol devisanya dengan mengecualikan ketentuan itu bagi pasar saham. Pasar saham Thailand pun berangsur-angsur mulai pulih."Pelajaran yang dapat kami ambil adalah kepanikan pasar terjadi melebihi dari yang kami pikirkan. Kami perlu untuk mempertimbangkn psikologi investor lebih banyak," ujar Tarisa yang merupakan Gubernur bank sentral wanita pertama di Thailand.Tarisa juga berpendapat bahwa Thailand telah menjadi korban dari para spekulator valas dunia."Baht telah bergerak dalam satu arah, meski mata uang lainnya berfluktuasi naik turun. Jika kami tidak menghentikannya, kami tidak akan mengetahui berapa nilai tukar baht akan berakhir," ujar Tarisa.Sepanjang tahun ini, baht telah menguat hingga 15 persen terhadap dolar AS. Sementara rata-rata capital inflow ke Thailand melonjak hingga US$ 950 juta per minggu untuk posisi per awal Desember. Angka itu melonjak dibandingkan rata-rata November yang hanya US$ 300 juta."Cina, Hong Kong dan Singapura tidak menawarkan kesempatan yang nyata bagi para spekulator valas karena mata uangnya dipatok dalam range yang sempit," ujarnya."Sasarannya adalah negara yang kecil dengan perekonomian yang lebih terbuka seperti Thailand, Indonesia dan Filipina," tegas Tarisa.Meski demikian, lanjut Tarisa, BoT belum berniat untuk membuat kebijakan kontrol mata uang lanjutan saat ini. Ia tetap meyakini investor akan tetap berdatangan ke Thailand."Saat ini Thailand masih tetap menarik meski ada kesulitan yang lebih besar. Kami tetap menyambut investor jangka panjang. Tapi jika anda adalah investor jangka pendek, maaf saja. Saat ini ekonomi kami tidak menerima aliran dana seperti itu," cetusnya. (qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads