Bankir Lokal Tak Perlu Minder

Wawancara Khusus Dirut BNI (4-Habis)

Bankir Lokal Tak Perlu Minder

- detikFinance
Selasa, 26 Des 2006 14:15 WIB
Bankir Lokal Tak Perlu Minder
Jakarta - Kehadiran bankir-bankir asing tidak bisa ditolak seiring banyaknya bank-bank nasional yang diambil oleh investor asing. Tahun 2006 pun diwarnai dengan mundurnya dua bankir senior lokal yakni Jos Luhukay dan Peter B Stok. Padahal dua nama itu selama ini melekat erat dengan Bank Lippo dan Bank Niaga. Lantas, apakah itu berarti bankir-bankir lokal akan berguguran seiring makin banyaknya bank yang akan diakuisisi oleh asing sejalan dengan proses konsolidasi perbankan? Mungkin saja tidak.Bankir-bankir lokal sebenarnya harus tetap percaya diri dan tak perlu minder karena mereka memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki para bankir asing. Setidaknya bankir lokal dipandang lebih mengenal medan.Bagaimana pandangan bankir soal maraknya merger dan juga posisi para bankir lokal? Dan apa rencana BNI terkait merger ini?Berikut penuturan Dirut BNI Sigit Pramono dalam wawancara khusus dengan detikcom di kantornya, Wisma BNI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (22/12/2006) lalu.Dengan banyaknya investor asing di perbankan bagaimana kedepan ? Ketika kita bangun cetak biru perbankan, API (Arsitektur Perbankan Indonesia), karena dasar pemikiran jumlah bank di Indonesia yang 130 bank masih terlalu banyak. Jadi arah API dengan bank skala internasional ada tiga, skala nasional, dan bank dengan fokus tertentu memang arahnya konsolidasi dan enggak ada cara lain selain merger dan konsolidasi. Yang jadi persoalan di Indonesia, merger karena sukarela dengan pertimbangan bisnis murni tidak pernah terjadi. Merger lebih karena bank bermasalah, seperti Bank Mandiri. Dan kalau dulu tidak pernah ada dan tidak ada insentif yang jelas untuk membuat merger menguntungkan bagi pemilik, ketika ada investor asing datang dengan harga cocok ya dijual. Tren itu yang secara nasional terjadi apalagi sejak kebijakan Habibie tahun 1998 yang membolehkan investor asing membolehkan memiliki bank lokal sampai 99 persen. Artinya kita membuka pintu. Tapi kalau kita sudah membuka pintu lebar-lebar lalu dipermasalahkan lagi, ditutup atau diusir, ya tidak fair. Tenaga bankir asing banyak yang masuk juga wajar karena pemilik memilih sopir yang bisa dipercaya. Menurut saya yang harus diatur mengenai tenaga bankir asing adalah asosiasi harus buat standar profesi yang jelas. Bankir lokal juga perlu tingkatkan kemampuan, tidak perlu minder karena bankir lokal paling tahu kondisi pasar di Indonesia. Kembali lagi BI dan pemerintah harus memberikan insentif untuk merger dan akusisi sehingga pemilik bank kecil punya pilihan ekonomis lebih menguntungkan merger dibanding dijual ke asing. Insentif itu perpajakan, kemudahan perijinan. Kalau sudah diberikan insentif yang baik tapi tidak jalan juga, bisa dipaksa. Tapi harus dibuktikan dulu kalau merger lebih menguntungkan. Sekali lagi kepemilikan asing juga konsekuensi logis karena pintu dibuka, BI juga tidak gerah. Di tahun 2007, fokus ke kredit korporasi apa saja dan yang sudah di pipeline seperti apa saja ? Kalau di pipeline, kita untuk target 2007 kalau teralisir semua sudah lebih dari cukup. Tapi namanya pipeline mungkin tidak semua terealisir. Apalagi bank seperti kami pesaingnya itu-itu saja, Bank Mandiri, BCA, BRI. Jadi yang di pipeline tidak ada persoalan. Tahun depan kita fokus sekali untuk pembiayaan agribisnis khususnya sawit dan derivatifnya. Terkait target BNI jadi bank internasional, target pertumbuhan organik dan non organik bagaimana? wacana merger atau akuisisi dengan Bank Mandiri dan BTN masih memungkinkan ?Bagi kami, BNI kemungkinan untuk merger dan akusisi sudah masuk rencana. Ini kondisi yang realistis kalau acuan kita adalah API. Caranya adalah konsolidasi, tinggal masalah waktu. Suatu waktu pemilik akan berpikir untuk menggabungkan bank, tinggal tunggu waktu, tapi pasti. Makanya di rencana kami skenario itu ada. Untuk itu kami menyiapkan diri dengan memperbaiki kinerja. Apalagi kalau bangsa ini punya cita-cita punya bank skala internasional, godaan konsolidasi akan lebih besar lagi. Saya ambil contoh BNI, saat ini ekuitas kami Rp 14 triliun, untuk jadi bank skala internasional perlu Rp 50 triliun jadi perlu Rp 36 triliun tambahan. Kalau keuntungan kami Rp 2 triliun pertahun dan Rp 1 triliun dikeluarkan untuk dividen, berarti BNI perlu 36 tahun untuk jadi bank skala internasional jika tumbuh secara organik. Bank mandiri atau BRI mungkin lebih cepat tapi perlu sekitar rata-rata 20 tahun. Jadi kalau punya mimpi punya bank skala internasional ya dimerger biar cepat, kalau tidak kita perlu 20 tahun. Kami menyiapkan diri karena opsi itu pasti terjadi, tapi kami tidak mau pusing-pusing karena kami sudah tes dengan inisiatif akusisi BTN tapi publik dan stake holders tidak siap. Padahal kalau BTN jadi subsidiary-nya BNI, kami tidak perlu repot-repot bangun BNI Griya. Saya pikir kami punya uang tapi tidak punya warung, warungnya btn karena BTN kan tidak punya dana tapi sudah set up. sekarang saya terpaksa bangun BNI Griya. Sekarang saya katakan di internal kita siapkan diri sehingga kalau nanti bergabung, kita jadi surviving entity atau kita tidak hilang. Jadi kalau nanti digabung dengan Bank Mandiri, BNI lebih bagus, namanya BNI atau kalau sama-sama bagus, namanya BNI Mandiri. Sekarang tinggal kemauan pemilik saja, kecuali kalau kita tidak mau punya bank internasional. Kalau begitu berarti kita tidak akan punya bank besar. Untuk di asia tenggara saja nomor satu kan DBS, dan kalau BRI mandiri BNI digabung kita masih no 4 terbesar di Asia Tenggara. Tapi kalau dilihat skala bisnis BNI sudah skala internasional, kita sudah punya cabang diluar negeri. (qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads