Bank Sentral Jepang Dikecam
Jumat, 19 Jan 2007 11:24 WIB
Tokyo - Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) mendapat kritikan pedas dan dituding telah membingungkan pasar. BoJ juga dikritik karena tak mampu melawan tekanan politik dari pemerintah Jepang untuk tidak menaikkan suku bunga.Seperti dilansir dari AFP, Jumat (19/1/2007), hampir semua media massa Jepang menulis kritikan-kritikan pedas dalam headline-nya.Misalnya saja Nikkei yang meski mendukung keputusan BoJ untuk mempertahankan suku bunga di level 0,25 persen, namun mencaci para politisi yang turut campur atas keputusan BoJ tersebut.Para pelaku pasar finansial Jepang sebelumnya merasa kebingungan karena berubah-ubahnya petunjuk soal kenaikan suku bunga Jepang. Pada awalnya, sebuah laporan menyampaikan BoJ akan menaikkan suku bunganya. Namun ternyata dalam rapat yang berakhir pada Kamis (18/1/2007) kemarin, BoJ memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga setelah mendapat tekanan dari pemerintah."BoJ harus bekerja lebih keras untuk menjelaskan kepada pasar apa yang dipikirkannya tentang berbagai kebijakan," tulis Nikkei.Hal senada disampaikan oleh Financial Times, yang juga menyatakan dukungannya untuk mempertahankan suku bunga Jepang."Namun dengan memberi ekspektasi kenaikan suku bunga sebelumnya, BoJ memberi kesan telah terbawa oleh tekanan politik untuk mempertahankan suku bunga," tulis Financial Times.Tak kalah pedas adalah kritikan dari Asahi Shimbun yang menyatakan langkah BoJ telah merontokkan kepercayaan pasar atas BoJ. "Keputusan yang terakhir sepertinya telah membingungkan pasar dan menggerus kepercayaan atas BoJ," tulis Asahi Shimbun.Harian paling laris Jepang, Yomiuri Shimbun juga menilai komunikasi BoJ dengan pasar sangat menyedihkan. Namun tetap saja harian itu menilai kebijakan yang lebih ketat saat ini belum diperlukan."Adalah keputusan yang baik untuk menunda kenaikan suku bunga, namun hal yang tidak baik adalah bahwa kekisruhan telah meningkat dan dapat mengganggu kredibilitas bank sentral," tulis harian tesebut. "Masalah yang serius adalah bahwa pasar telah memiliki pandangan bahwa BoJ di bahwa kekuasaan politik dan tidak tegas," tulis harian yang konservatif, Sankei Shimbun.
(qom/ir)











































