Bank Hindari Salurkan Kredit Properti, Tekstil dan Pertanian

Bank Hindari Salurkan Kredit Properti, Tekstil dan Pertanian

- detikFinance
Minggu, 21 Jan 2007 10:41 WIB
Jakarta - Pada triwulan keempat tahun 2006, perbankan nasional cenderung menghindari penyaluran kredit baru ke sektor bangunan, industri dan sektor pertanian.Demikian hasil survei perbankan seperti dikutip dari situs resmi Bank Indonesia, Minggu (21/1/2007).Untuk sektor bangunan terutama industri properti perbankan menilai pasar pada sektor ini sudah jenuh dan terjadi over supply sehingga berpotensi menimbulkan kredit macet.Di sektor industri khususnya tekstil atau garmen, industri tekstil dinilai kurang mampu bersaing dengan produk impor Cina yang harganya relatif murah.Kemudian dengan alasan menghindari penyalahgunaan Hak Penebangan Hutan (HPH) dan illegal logging, perbankan enggan menyalurkan kredit barunya ke sektor pertanian khususnya kehutanan.Survei itu juga menyebutkan hanya sekitar 37,5 persen responden yang realisasi kredit barunya di bawah target yang telah ditetapkan. Kondisi perekonomian yang kurang mendukung serta tingginya risiko usaha nasabah merupakan faktor penyebab tidak tercapainya target pemberian kredit baru.Namun permintaan masyarakat terhadap kredit baru tetap bergairah. Meningkatnya permintaan kredit baru tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan nasabah terhadap pembiyaan usahanya, menurunnya suku bunga kredit serta membaiknya prospek usaha nasabah.Permintaan kredit baru terutama dari pengajuan kredit modal kerja khususnya sektor perdagangan, industri pengolahan, dan kredit konsumsi untuk pembangunan rumah dan kartu kredit. Dari seluruh aplikasi kredit yang masuk, hanya sekitar 14 persen yang tidak disetujui oleh bank.Sementara itu Sertifikat Bank Indonesia (SBI) masih merupakan tempat favorit perbankan dalam menempatkan dananya bila terjadi kelebihan likuiditas. (ddn/nrl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads