BNI Kebanjiran Permintaan Kredit Infrastruktur

BNI Kebanjiran Permintaan Kredit Infrastruktur

- detikFinance
Rabu, 24 Jan 2007 13:05 WIB
Jakarta - Mengawali tahun 2007 ini, bank pelat merah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) sudah kebanjiran permintaan kredit infrastruktur yang mencapai Rp 15 triliun. Sementara target perseroan untuk kredit infrastruktur tahun ini hanya sebesar Rp 4,4 triliun. "Dalam pipeline investor yang sudah mengajukan kredit dan sedang dalam proses mencapai Rp 15 triliun dan ini sedang dikaji BNI," kata Dirut BNI Sigit Pramono.Hal itu diungkapkan Sigit, disela-sela acara penandatanganan perjanjian kredit sindikasi antara BRI, BNI, Bukopin dengan PT Marga Nujyasumo Agung (MNA), di Hotel Shangri-la, Jakarta, Rabu (24/1/2007).Sigit menjelaskan, meski dalam pipeline permintaan kredit infrastruktur mencapai Rp 15 triliun, namun tidak seluruhnya dapat terealisasi di tahun 2007. "Dengan bahan mentah dan raw material sebesar itu kalau 20 persen saja yang kita selesaikan saya kira sudah cukup," ujar Sigit.Sementara pada tahun 2006 BNI telah menyalurkan kredit infrastruktur Rp 8,6 triliun, lebih tinggi dari target semula Rp 4,1 triliun.Realisasi kredit infrastruktur BNI ahun 2006 disalurkan untuk jalan tol Rp 1,2 triliun, energi dan listrik Rp 4 triliun, agro industri atau pertanian dan perkebunan Rp 3,3 triliun.Sigit juga menjelaskan, kedepan BNI akan melakukan pembiayaan di proyek infrastruktur jalan tol di Jawa Timur, pembangkit listrik Cilacap II, pembangkit listrik di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah serta pembangkit listrik di Sumatra.Selain infrastruktur, BNI juga menyediakan pembiayaan sektor telekomunikasi untuk penambahan modal kerja dan pembangunan BTS. Kredit sektor telekomunikasi di 2007 disiapkan sekitar Rp 2 triliun.Untuk penyaluran kredit secara keseluruhan, di tahun 2007 BNI menargetkan tumbuh 20 persen atau ada tambahan kredit baru Rp 13,2 triliun dari outstanding tahun 2006 sebesar Rp 66 triliun.Untuk meminimalisir kredit macet sektor infrastuktur, menurut Sigit, BNI telah melakukan mitigasi risiko terhadap proyek-proyek yang akan dibiayai."Kita lihat siapa sponsornya atau investornya serta kita lihat bagaimana track record-nya," imbuh Sigit. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads