Meski Klaim Banjir Membengkak, Asuransi Takkan Bangkrut

Meski Klaim Banjir Membengkak, Asuransi Takkan Bangkrut

- detikFinance
Rabu, 07 Feb 2007 17:39 WIB
Jakarta - Klaim asuransi akibat banjir tahun ini diprediksi lebih besar dari tahun 2002. Meskipun demikian, perusahaan asuransi tidak bakalan tutup karenanya.Berdasarkan pengalaman banjir tahun 2002 dan area yang terkena banjir kali ini, diprediksi klaim asuransi terbesar berasal dari klaim asuransi pabrik-pabrik dan bangunan komersial seperti hotel dan restoran.Hal tersebut disampaikan Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Frans Y Sahusilawane dalam jumpa pers di Wisma Tugu Rei, Jalan Raden Saleh, Jakarta, Rabu (7/2/2007)."Saat ini pabrik-pabrik dan bangunan komersial akan menjadi sumber klaim paling besar," ujarnya.Frans lantas membandingkan kejadian banjir tahun 2002 dengan banjir kali ini. Meskipun belum dihitung, klaim tahun ini akan lebih besar daripada tahun 2002.Pada tahun 2002 ada pengajuan klaim sebanyak 1.145 polis untuk rumah, 1.804 polis kendaraan bermotor, 547 polis bangunan komersial, dan 780 polis pabrik. Dengan total klaim asuransi yang harus ditanggung sebesar US$ 200 juta.Meskipun uang yang harus disediakan perusahaan asuransi membengkak, Frans yakni perusahaan asuransi umum tidak akan ada yang tutup. AAUI telah menganjurkan anggotanya untuk meminta dukungan dari reasuransi internasional supaya menutupi segala klaim akibat bencana yang terjadi di Indonesia."Kita tidak akan dihukum oleh reasuransi internasional karena meskipun misalnya jumlah total klaim di tahun 2007 sebesar 2 kali lipat dibanding tahun 2002 masih terlalu kecil untuk mereka," ujarnya.Namun Frans mengkhawatirkan adanya penilaian dari reasuransi internasional bahwa country risk di Indonesia sangat tinggi akibat banyaknya bencana.Dengan banyaknya bencana, Frans meminta masyarakat untuk sadar pentingnya asuransi. Saat ini rasio penetrasi asuransi umum di Indonesia hanya 0,65 persen dari PDB. (ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads