Dana Kredit Menganggur di BCA Rp 25 Triliun
Sabtu, 03 Mar 2007 14:24 WIB
Jakarta - Sekitar Rp 25 triliun dana di PT Bank Central Asia (BCA) tidak tersalurkan untuk kredit pada tahun 2006. Masyarakat masih enggan untuk mengajukan kredit karena masih tingginya suku bunga gara-gara imbas kenaikan BBM tahun 2005.Hal ini disampaikan oleh Wakil Direktur Utama BCA Aswin Wirjadi usai peresmian layanan weekend banking di Kantor Cabang BCA Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, Sabtu (3/3/2007)."Hal in disebabkan daya serap kredit yang rendah akibat tingginya suku bunga kredit perbankan. Kenaikan bahan bakar minyak di 2005 benar-benar menyebabkan perekonomian di 2006 stagnan dan tidak berkembang," ujarnya.Dana BCA yang menganggur itu memperlihatkan bahwa masyarakat sedang menunggu penurunan suku bunga. "Orang sedang stand by menunggu bunga turun," ujarnya.Penjualan toko-toko eceran di tahun 2006 juga mengalami penurunan. "Saya rasa jika suku bunga SBI terus turun akan sangat bagus karena perekonomian akan bergulir," ujarnya.Aswin berharap, tren suku bunga yang sekarang sedang menurun terus terjadi sehingga bisnis perbankan akan membaik. "Pemakaian kartu kredit meningkat dan daya beli juga meningkat. Kalau interest rate naik. Kita pun takut akan terjadi kredit macet," imbuhnya.Dengan penurunan suku bunga, produk reksa dana dan ORI002 yang akan diterbitkan pemerintah akan akan kembali menjadi pilihan utama nasabah. "Reksa dana akan laku dengan penurunan suku bunga apalagi dengan penerbitan ORI002 yang suku bunganya 9 persenan," ujarnya.BCA tidak khawatir dana pihak ketiga (DPK) akan terkuras dengan adanya penerbitan ORI002. "Saya kira tidak berpengaruh ke DPK kita sebab karena kita juga akan mendapatkan komisi atau fee base income dari penjualan ORI yang kami lakukan," ujarnya.
(ddn/ir)











































