KPR BCA Makin Kinclong
Sabtu, 03 Mar 2007 15:38 WIB
Jakarta - PT Bank Central Asia (BCA) tetap menjadikan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebagai salah satu tulang punggung penyaluran kredit konsumen perusahaan.Total outstanding KPR BCA 2006 mencapai Rp 4 triliun. Sedangkan di tahun 2007 ini diharapkan ada kredit baru Rp 3 triliun."Tahun 2007 kita harapkan meningkat menjadi Rp 7 triliun," kata Wakil Dirut BCA, Aswin Wirjadi, di acara peresmian layanan weekend banking BCA di Kantor Cabang BCA Mal Taman Anggrek, Jalan S Parman, Jakarta, Sabtu (3/3/2007). Peningkatan KPR disebabkan oleh suku bunga yang ditawarkan sangat kompetitif yakni sebesar 9,99 persen."Permintaan KPR membludak dan yang sedang berjalan selama 2 minggu ini sudah Rp 600 miliar," ujarnya.Sementara untuk kinerja tahun 2006 Aswin mengaku pencapaiannya sangat baik."Laba bersih cukup menggembirakan dan minggu depan akan dipublikasikan," katanya. Selama tahun 2006, BCA juga mengalami kenaikan dana pihak ketiga (DPK) yang signifikan."Untuk tahun 2007 kami mengharapkan kenaikan DPK 10-15 persen dari saldo 2006 sekitar Rp 10-15 triliun," kata Aswin.Komposisi DPK 2006 didominasi tabungan dan giro. "Tabungan dan giro 70 persen dari total DPK dan 30 persen deposito, kita kebalikan dari bank lain," katanya.Pertumbuhan kredit 2006 sekitar 12-13 persen. Di tahun 2007 BCA menargetkan pertumbuhan kredit 15-17 persen.Untuk rasio dana terhadap kredit atau Loan to Deposits Ratio (LDR), Aswin mengakui masih kesulitan meningkatkan LDR. "Karena pertumbuhan DPK sangat besar dibanding pertumbuhan pinjaman jadi seolah-olah LDR jalan di tempat," tutur Aswin.LDR BCA tahun 2006 sekitar 40 persen dan 2007 diperkirakan tidak jauh berbeda sebesar 45 persen. "Kenaikan DPK yang sangat besar menyebabkan dana yang mengendap cukup besar," ujarnya.Komposisi kredit BCA tahun 2006 sebesar 35 persen korporasi, 45 komersial dan ritel serta 25 persen ke konsumer.Aswin mengatakan, suatu keharusan BCA untuk memberikan kredit ke korporasi, karena korporasi memberikan triple effect."Karena kalau tidak ada pabrik-pabrik maka tidak ada konsumen. Maka itu koporasi sangat penting walaupun risiko sangat besar," jelas Aswin..
(ir/ddn)











































