Rights Issue dan Divestasi Saham BNI Jangan Bersamaan
Senin, 05 Mar 2007 17:35 WIB
Jakarta - Rencana secondary offering atau penawaran saham kedua dan rights issue atau penawaran saham terbatas, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) sebesar masing-masing 20 persen sebaiknya tidak dilakukan bersamaan pada tahun 2007 ini.Demikian disampaikan Anggota Komisi XI DPR RI Drajad Wibowo kepada pers seusai rapat tertutup privatisasi BNI di gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (5/3/2007)."Jangan dipaksakan dilakukan dua-duanya tahun ini, karena harus tergantung pada pasar saham di Indonesia, apalagi ada gejolak di pasar saham Shanghai Cina, dan kita tidak tahu bagaimana kondisi saham BNI jika dilepas di pasar," ucapnya.Upaya pemisahan waktu penawaran saham juga dimaksudkan untuk menghindari aksi menurunkan nilai saham BNI, sehingga dapat menyebabkan kerugian pada pemeritah sebagai pemegang saham."Saya menangkap ada indikasi saham BNI akan dikerek ke bawah sebelum pelepasan, sama seperti PGN, negara akan dirugikan. Saya mendapatkan informasi dari para pelaku pasar mengenai gorengan saham BNI ini," beber Drajad.Menurut Djrajad, yang paling dimungkinkan untuk dilakukan pada tahun ini adalah penawaran saham terbatas. Selain untuk melihat pergerakan pasar saham juga untuk menghindari terdelusinya saham milik pemerintah di BNI."Namun kita belum ambil keputusan dan Komisi XI akan berhati-hati ambil keputusan ini," tukas Drajad.
(hdi/qom)











































