Dunia Usaha Nggak Pede, Kredit Nganggur Rp 179 Triliun

Dunia Usaha Nggak Pede, Kredit Nganggur Rp 179 Triliun

- detikFinance
Kamis, 15 Mar 2007 11:28 WIB
Jakarta - Dunia usaha tampaknya masih belum percaya diri dengan prospek usaha di Indonesia. Tak heran, kredit nganggur di perbankan hingga Januari 2007 telah mencapai Rp 179 triliun.Angka itu berarti meningkat Rp 36 triliun hanya dalam tempo sebulan. Karena angka undisburshment loan atau kredit yang tidak dicairkan per akhir Desember 2006 baru mencapai Rp 143 triliun."Hal ini mencerminkan bahwa dunia usaha tidak yakin dengan prospek usahanya. Dan mereka tidak yakin akan adanya permintaan dari dunia luar," jelas Gubernur BI Burhanuddin Abdullah.Ia menyampaikan hal itu dalam semiloka bertema 'Sektor riil di Indonesia, dimanakah peran serta sektor keuangan?' di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta, Kamis (15/3/2007). Sementara dari sisi perbankan juga masih terbayang ketakutan terhadap risiko dunia usaha. Tak heran, kredit perbankan masih didominasi oleh konsumsi."SDM perbankan perlu ditingkatkan, karena banyak bank swasta yang awalnya berasal dari grup. Jadi kucuran kredit hanya diberikan pada grupnya tersebut tanpa melihat bisnis lain diluar yang potensinya lebih baik," jelasnya.Menurut Burhanuddin, undisburshment loan itu juga disebabkan adanya informasi yang tidak menyeluruh dan merata antara sektor riil dan perbankan. Karena itu BI akan terus menjadi fasilitator atau penghubung antara sektor riil dan perbankan. Bank Kecil Lebih AgresifBurhanuddin juga memperkirakan bank-bank kecil akan lebih agresif mengucurkan kreditnya di tahun 2007. Hal itu berdasarkan laporan target perbankan yang disampaikan perbankan ke BI.Ia menjelaskan, dalam laporannya ke BI, bank-bank kecil menargetkan pertumbuhan kecil sebesar 44 persen. Sementara bank-bank campuran menargetkan pertumbuhan 40 persen. Sedangkan bank-bank BUMN lebih berhati-hati dengan angka pertumbuhan hanya 15 persen. "Berdasarkan laporan tersebut, rata-rata pertumbuhan kredit perbankan secara nasional rata-rata sebesar 23 persen," jelas Burhanuddin.Secara nominal, lanjut Burhanuddin, meski bank BUMN lebih kecil angka pertumbuhannya, namun untuk nilai lebih besar. Hal ini karena pertumbuhan kredit bank BUMN pada tahun 2006 sudah menunjukkan angka yang cukup besar. Untuk mendukung kredit perbankan, pemerintah dan BI harus menjaga optimisme di sektor riil. Sehingga permintaan kredit meningkat dan dunia usaha semakin percaya diri. (qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads