BI: Reverse Carry Trade Usai, Rupiah Bisa Menguat
Jumat, 16 Mar 2007 15:08 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah saat ini hanya bersifat sementara, karena setelah reverse carry trade usai rupiah akan menguat lagi."Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari sisi fundamental kita karena ini masalah irasional. Ada masalah global dimana investor takut dengan subprime mortage industry di Amerika. Untuk reverse carry trade menurut hemat saya akan segera berakhir. Jadi saya kira rupiah akan menguat lagi karena faktor fundamental domestik ekonomi kita tidak perlu dikhawatirkan," papar Deputi Gubernur BI Aslim Tadjudin usai shalat Jumat di BI, Jakarta, Jumat (16/9/2007). Menurut Aslim, terjadinya reverse carry trade akibat ketakutan investor global terhadap pembiayaan hipotik yang turun sehingga banyak kredit perumahan yang macet di Amerika. Aslim mengatakan Rupiah akan menguat kembali karena fundamental ekonomi Indonesia yang bagus. Hal ini terlihat dari inflasi yang terjaga dan cadangan devisa mencatat angka tertinggi US$ 46 miliar. Dengan kondisi ini BI bahkan bisa menurunkan kembali suku bunga. "Suku bunga kita juga cenderung dan menurut hemat saya masih ada ruangan untuk turun selama kita bisa menjaga inflasi di level 6 persen saat ini," ujarnya.Ruang penurunan bunga juga masih luas karena The Fed diperkirakan masih akan mematok tingkat bunganya stabil di 5,25 persen. Sehingga selisih SBI saat ini sebesar 9 persen dengan tingkat bunga The Fed masih sangat lebar. Reverse carry trade adalah pembalikan modal oleh investor global yang semula menanamkan investasinya di negara berkembang ke negara yang perekonomiannya kuat. Sebelumnya investor ini meminjam dana dari negara yang memiliki bunga rendah lalu menginvestasikannya ke negara berkembang yang bunganya lebih tinggi.
(ard/ir)











































