SBY: Waspadai Rekening Yayasan dan Lembaga Sosial
Selasa, 17 Apr 2007 15:46 WIB
Jakarta - Pelaku kejahatan punya sejuta cara untuk 'mencuci uang panasnya'. Termasuk memanfaatkan keberadaan rekening milik yayasan nirlaba dan lembaga sosial. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun mengingatkan jajaran terkait mewaspadai modus pencucian uang demikian. "Kita perlu menaruh perhatian terhadap penggunaan account banking dan alternatif remittance yang mendompleng non-profit organization, yayasan dan lembaga sosial serta penyelundupan currency dengan menggunakan kurir," kata SBY.Peringatan di atas merupakan bagian materi presidential lectural yang ia sampaikan dalam rangka HUT ke-5 PPATK di Istana Negara, Jakarta, Selasa (17/4/2007). Modus operandi baru lainnya adalah penyalahgunaan berbagai instrument investasi pada layanan perbankkan dan non perbankkan. Antara lain menggunakan self atau paper company, pemanfaatan offshore bank, offshore bisnis, dan form bank account. Pencucian uang juga juga melalui kegiatan perdagangan barang-barang bernilai tinggi. Seperti pembelian berlian, permata, perhiasan serta proprertu dan real estate di dalam dan dan luar negeri. Lebih lanjut Presiden SBY mengibaratkan kemajuan sistem keuangan dewasa ini seperti pisau bermata dua. Di satu sisi membawa manfaat bagi masyarakat dengan makin efisien transaksi itu, tetapi di sisi menjadi faktor pendorong terjadinya berbagai kejahatan yang modus operandinya makin canggih. Melalui berbagai transaksi transfer penempatan maupun pemindahbukuan yang berlapis guna menyamarkan hasil kejahatannya. Sehingga menyulitkan deteksi atas aliran dana karena dibuat seolah dari transaksi keuangan yang sah. "Dalam beberapa kasus dampak negatif tindak pidana pencucian uang dirasakan lebih berat dan luas karena kejahatan asal yang menjadi pemicu adalah tindak pidana berat yang jumlahnya sangat banyak dan bervariasi," sambung presiden.
(lh/qom)











































