BTN Paling Siap Sekuritisasi Aset
Selasa, 17 Apr 2007 16:30 WIB
Jakarta - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) dinilai sebagai perusahaan di Indonesia yang paling siap melakukan sekuritisasi aset-aset kredit perumahannya (mortgage).Sekuritisasi aset adalah upaya perusahaan untuk menjaminkan aset keuangan berupa tagihan yang timbul dari surat berharga komersial, tagihan kartu kredit, tagihan yang timbul di kemudian hari (future receivables), pemberian kredit termasuk kredit pemilikan rumah, efek berisifat utang. Sekritisasi aset BTN bisa dilakukan dengan pola Residential Mortgage Back Securities (RMBS) dengan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) sebagai perusahaan kendaraannya atau Special Purpose Vehicle (SPV). Hal ini dikatakan oleh Vice President-Senior Analyst PT Moody's Indonesia Iwan Wisaksono dalam acara Moody's Investors Service, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (17/4/2007)."Tahun ini yang sedang dikaji adalah untuk sekuritisasi aset KPR BTN senilai Rp 500 miliar, dan kita harapkan bisa selesai tahun ini, tapi tergantung data-data yang ada," ujarnya. Sementara untuk peringkatnya, Iwan mengatakan, untuk RMBS yang dikeluarkan oleh PT SMF tersebut bisa memiliki rating AA atau AAA. "Jika dilihat dari asetnya, rating-nya bisa begitu," tambahnya.Walaupun begitu, pihak BTN pernah mengatakan sebenarnya jumlah aset yangdisekuritisasi sejumlah Rp 500 miliar tersebut masih merupakan uji coba saja. Selain BTN, Iwan mengatakan bahwa untuk tahun ini, Moody's juga sedang menjajaki sekuritisasi aset atau Asset Back Securities (ABS) dengan 3 perusahaan keuangan."Jadi ada 3 finance company yang ingin mensekuritisasi asetnya, nilai kesemuanya kurang lebih Rp 200 - Rp 300 miliar, diharapkan tahun ini selesai dan bisa dilaksanakan," ujarnya.Menurut Iwan, sekuritisasi aset ini sangat bagus untuk perbankan dan perusahaan keuangan. "Karena mereka tidak perlu menambah modal untuk menjaga CAR mereka, sementara untuk investor mereka bisa memperjualbelikan aset tersebut," ujarnya.Akan tetapi pola pendanaan melalui pola sekuritisasi aset bukan merupakan cara yang awam bagi perusahaan di Indonesia. "Untuk investor ABS ini biasanya adalah institusi, tapi agak sulit juga karena harus ada pengertian mengenai risiko yang mereka hadapi," jelasnya.Pasar RMBS menurut data Moody's yang paling berpotensi adalah perbankan nasional. Antara lain, BTN, Bank Mandiri, Bank Niaga, BCA, BII, Bank NISP, BNI, Permata Bank, Bank Buana dan Lippobank.Total dana kredit rumah (mortgage) dari 20 bank teratas tersebut adalah Rp 46,4 triliun dari total outstanding mortgage keseluruhan sebesar Rp 66,3 triliun, dengan market share 66,89 persen.
(dnl/ir)











































