Gubernur BI: Dana Bank di SBI Perlu Diwaspadai
Jumat, 20 Apr 2007 11:30 WIB
Jakarta - Kelebihan likuiditas perbankan yang diletakkan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) harus diwaspadai karena terus meningkat.Padahal dana perbankan tersebut diharapkan lebih banyak ke sektor rill sehingga bisa membantu menggerakkan ekonomi masyarakat."Perbankan likuiditasnya banyak diletakkan di SBI dan ini perlu diwaspadai karena masyarakat menunggu dana tersebut digunakan untuk menggerakkan potensi perekonomian yang ada," kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah.Hal itu disampaikan dalam seminar berjudul 'Resiko Hukum dan Bisnis Dalam Investasi BUMN dan BUMD Implikasi penerbitan PP 33 Tahun 2006 Tentang Piutang Negara' Di Hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat (20/4/2007).Banyaknya dana bank yang masuk di SBI ini karena perbankan masih khawatir terhadap kredit macet.Burhanuddin menambahkan rasio kredit macet (Non Performing Loan/NPL) dari perbankan masih cukup tinggi. "Saat ini NPL gross perbankan 7 persen, untuk nettonya 3,4 persen dan ini masih cukup tinggi, walaupun tendensinya menurun," jelasnya.Tingkat NPL ini menurut Burhanuddin menunjukkan indikasi bahwa manajemenperekonomian kita kurang baik. "Ini juga diakibatkan pasar yang tidak menudukung dan juga penerapan manajemen risiko yang buruk," jelasnya. Burhanuddin mengatakan, pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2006 sebesar 5-5,5 persen tidak cukup untuk menyelesaikan permasalahan bergeraknya sektor riil. "Kita memerlukan pertumbuhan ekonomi sebesar 6-7 persen untuk bisa menyelesaikan pertumbuhan sektor riil, employment dan bisnis dengan cara usaha stabilitas ekonomi dan pemerataan. Apalagi perekonomian tahun lalu didominasi oleh ekspor dari komoditi dan konsumsi," ujarnya.Burhanuddin juga mengatakan bahwa Indonesia perlu meningkatkan percepatan ekonomi dengan cara meningkatkan investasi. "Kita harus memikirkan bagaimana mempercepat realisasi APBN, peran corporate dan juga BUMN," jelasnya.Untuk BUMN, Burhanuddin mengatakan, bahwa peran BUMN begitu vital dalam menggerakkan ekonomi. "Jika BUMN bergerak dengan baik maka perekonomian akan cepat berkembang," imbuhnya."Karena itu, pertumbuhan investasi yang dibutuhkan di tahun ini adalah 13 persen untuk mencapai pertumbuhan 6,3 persen, dan cukup besar lompatannya dari investasi tahun lalu yang sebesar 2,9 persen, namun kita harus optimis," paparnya.Burhanuddin mengatakan bahwa dengan adanya PP 33 tahun 2006 tentang piutang negara sangat bagus bagi bank-bank BUMN. "Ini bisa memberikan level of playing field yang sama antara bank BUMN dengan swasta dalam hal penyelesaian NPL, jadi dapat memberikan kepastian, sehingga stabilitas bank BUMN terjaga," ujarnya."Selain itu, PP ini akan mengurangi pencadangan dana atau provisi perbankan sehingga modal makin kuat dan dana tersebut bisa digunakan untuk membangun sektor riil dan dengan begitu proses intermediasi untuk pertumbuhan ekonomi berjalan," tambahnya.
(dnl/ir)











































