Jika Tidak Direm
Jumlah SBI 2008 Dua Kali Lipat
Jumat, 27 Apr 2007 17:56 WIB
Jakarta -
Bank Indonesia (BI) mengkhawatirkan likuiditas berlebih yang masuk dalam negeri. Adanya perpindahan dana dari negara maju ke negara berkembang seperti Indonesia menyebabkan likuiditas di pasar berlebih. JIka tidak direm, penempatan dana di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) bisa berlipat ganda pada tahun depan.Hal tersebut disampaikan Deputi Gubernur BI Aslim Tadjuddin dalam diskusi strategi pembiayaan perbankan, di Hotel Imperial Aryaduta, Karawaci, Banten, Jumat (27/4/2007). "Tahun depan kalau tidak ada upaya atau kebijakan yang strategis bisa-bisa jumlah SBI menjadi dua kali lipat," ujarnya.Berdasarkan data BI ekses likuiditas yang masuk dan terlihat dari posisi SBI dan fasilitas BI per Maret 2007 mencapai Rp 263 triliun. Jumlah tersebut hampir sama dengan uang primer yang mencapai Rp 272 triliun.Aslim menambahkan karena kelebihan likuiditas itu jika terjadi pembalikan yang tiba-tiba dikhawatirkan akan menciptakan instabilitas moneter terutama tertekannya nilai tukar. Likuiditas yang berlebihan itu akan menjadi beban bagi BI karena BI harus membayar bunga yang cukup besar setiap bulannya."Kalau tidak diambil langkah strategis ini akan seperti snow ball, akan berlangkah terus sehingga kita dihadapkan ada ekses likuiditas yang sangat banyak dan tidak mungkin kita serap hanya lewat SBI," ujarnya.Oleh karena itu ada beberapa cara untuk mengatasi permasalahan tersebut pertama peningkatan Giro Wajib Minimum (GWM), kedua operasi pasar terbuka.Ketiga dengan melakukan penjualan valas atau melepas dolar AS melalui mekanisme nilai tukar, dan keempat melalui konversi tagihan BI kepada pemerintah menjadi SUN yang dapat diperdagangkan yang dapat dipergunakan BI sebagai instrumen pasar terbuka. "Yang paling memungkinkan adalah opsi yang keempat ini," ujarnya.
(ddn/ir)










































