Penyaluran Kredit Pengembangan Energi Alternatif Seret
Kamis, 10 Mei 2007 11:54 WIB
Jakarta - Penyaluran kredit dari 5 bank penyalur kredit pengembangan energi nabati dan revitalisasi perkebunan (KPEN-RP) masih rendah. Padahal pemerintah sudah menyiapkan dana hingga Rp 25,5 triliun.Lima bank itu adalah BRI, Bank Mandiri, Bukopin, BPD Sumbar dan BPD Sumut. BRI mendapat jatah Rp 12 triliun namun realisasinya baru Rp 847 juta, Bank Mandiri dengan jatah Rp 11,09 triliun baru terealisasi Rp 460 miliar.Bank Bukopin, BPD Sumut dan Sumbar mendapat jatah Rp 2,4 triliun, namun belum ada yang terealisasi.Hal tersebut disampaikan Menkeu Sri Mulyani di Graha Sawala, Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (10/5/2007)."Jadi jauh banget ya realisasinya. Nanti silahkan pergi ke tempatnya Pak Agus (Dirut Bank Mandiri) dan Pak Sofyan (Dirut BRI) itu kenapa plafonnya belum dipakai," ujarnya.Pemerintah sudah menyiapkan subsidi bunga sebesar 5 persen untuk kredit ini. Sehingga tingkat bunga kredit yang dikenakan pada petani sebesar 10 persen.Menkeu mengakui memang ada halangan dalam pencairan kredit, padahal kredit ditujukan untuk UKM."Itu berarti something wrong bukan di duitnya, suplai money-nya ada tapi demand-nya seret," ujarnya.Kredit KPEN-RP ini dananya dicairkan dari SU-005 tahun 1999. Kredit UKM yang dicairkan dari SU ini selain KPEN adalah kredit program eks KLBI dan kredit ketahanan pangan.Dana SU dicairkan melalui 31 lembaga keuangan termasuk bank, PT PNM, dan Perum Pegadaian. Dana yang sudah ditarik sampai 31 Maret 2007 sebesar Rp 2,7 triliun. Dana ini merupakan dana bergulir.
(ddn/qom)











































