Dana Asing di SBI Melonjak

Dana Asing di SBI Melonjak

- detikFinance
Rabu, 16 Mei 2007 12:23 WIB
Jakarta - Mengalirnya dana dari luar negeri (capital inflow) di pasar modal juga membuat dana asing di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) ikut melonjak.Sampai minggu kedua bulan Mei, Bank Indonesia (BI) mencatat peningkatan kepemilikan asing di SBI.Demikian penjelasan dari Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono disela-sela acara sosialisasi program skim pembiayaan industri tekstil dan produk tekstil, di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (16/5/2007). Pada lelang SBI 9 Mei 2007, BI menyerap dana Rp 53,84 triliun dengan tingkat rata-rata tertimbang SBI 1 bulan 8,75 persen. Sedangkan untuk SBI 3 bulan dana yang diserap Rp 3 triliun dengan rata-rata tertimbang 7,833 persen.Namun Hartadi menolak menyebutkan berapa porsi dana asing yang ada di SBI tersebut."Masih meningkat, khususnya sampai minggu yang terakhir. Kelihatan peningkatan dari kepemilikan asing di SBI. Saya lihat karena masih menariknya instrumen keuangan di Indonesia yang menarik di mata investor asing jadi bukan hanya SBI, termasuk SUN, saham dan sebagainya. Juga nanti obligasi korporasi. Itu semua sangat diminati oleh asing," jelas Hartadi.Investor melihat prospek ekonomi Indonesia yang terus meningkat termasuk dari hasil pencapaian triwulan I-2007 yang sebesar 5,9 persen.Selain faktor pertumbuhan ekonomi, menurut Hartadi, investor juga melihat tingkat bunga yang dibayarkan dari instrumen-instrumen investasi itu. Ditunjang pula dengan stabilnya nilai tukar rupiah."Jadi mereka dapat gain yang lebih besar. Sudah dapat dari suku bunga yang masuk dengan dolar AS ditukarkan rupiah, karena rupiah menguat dia dapat gain lagi dari penguatan tersebut. Hal seperti itu menambah keinginan investor untuk masuk ke Indonesia," tutur Hartadi. Yang terpenting, menurut Hartadi, masuknya dana asing ini harus bisa dimanfaatkan. "Contohnya kalau ditambah instrumen baru di pasar, jika di saham akan lebih banyak lagi yang IPO, emisi baru investor akan masuk. Sehingga yang tadinya pasar saham sudah jenuh, tapi dengan masuknya instrumen baru bisa menambah lagi gairah. Jadi kalau kita manfaatkan seperti itu, capital inflow bisa masuk terus dan bermanfaat bagi kegiatan ekonomi kita sendiri," papar Hartadi. (ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads