Defisit Naik, Penerbitan SUN 2007 Ditambah Rp 27 Triliun

Updated

Defisit Naik, Penerbitan SUN 2007 Ditambah Rp 27 Triliun

- detikFinance
Senin, 21 Mei 2007 11:31 WIB
Jakarta - Karena banyak kebutuhan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2007 diperkirakan meningkat dari 1,1 persen manjadi 1,8 persen pada APBN-P 2007.Hal tersebut disampaikan Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (21/5/2007).Untuk membiayai defisit tersebut, pemerintah akan menambah penerbitan SUN sebesar Rp 27 triliun."Peningkatan defisit ini masih exercise dengan banyak kejadian seperti bencana alam, penambahan pengadaan beras, subsidi, juga kebutuhan infrastruktur, diperkirakan defisit naik 1,8 persen," ujarnya.Namun peningkatan defisit ini belum final, pemerintah terlebih dulu membahasnya dengan DPR.Tambahan penerbitan obligasi negara itu melalui diversifikasi instrumen SUN reguler, Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dan Surat Perbendaharaan Negara (SPN)."Dengan defisit 1,8 persen maka tambahan SUN rupiah netto menjadi 1,3 persen PDB," kata Rahmat.Pada tahun 2007, target penerbitan netto SUN sesuai APBN tercatat sebesar Rp 40,6 triliun.Sementara itu Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Ahmad Hafiz Zawawi ketika dihubungi wartawan mengatakan defisit APBN tahun 2008 yang disetujui sementara sebesar 1,7 persen PDB. Defisit yang besar tersebut untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi 2008 sebesar 6,8 persen.Pembiayaan untuk defisit tersebut sebagian besar akan dibiayai dari pembiayaan dalam negeri. "Rencana sementara defisit tahun 2008 sekitar 1,7 persen dari PDB," ujar Hafiz.Dipaparkan Hafiz pembiayaan terbesar akan di biayai dari dalam negeri melalui penerbitan obligasi dalam negeri."Dalam negeri 1,3 persen, termasuk penerbitan obligasi dalam negeri netto 1,3 persen lalu privatisasi dan dari PT Perusahaan Pengelola Aset," ucap Hafiz.Dan sisanya akan dibiayai dari pembiayaan luar negeri sebesar 0,4 persen melalui pinjaman dan penerbitan obligasi luar negeri."Luar negeri netto 0,4 persen dari pinjaman luar negeri dan penerbitan obligasi luar negeri 1,8 persen dikurangi pembayaran pokok utang luar negeri 1,4 persen," beber Hafiz. (hdi/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads