Kredit Tidak Dicairkan Sektor Manufaktur Rp 45 Triliun
Senin, 21 Mei 2007 18:50 WIB
Jakarta - Kredit yang tidak dicairkan (undisbursement loan) hingga triwulan I-2007 masih relatif tinggi. Bank Indonesia (BI) berjanji akan mencari penyumbat pengucuran kredit.Berdasarkan data BI, undisbursement loan di sektor manufaktur sebesar Rp 45 triliun selama triwulan I-2007, atau kurang lebih 26,8 persen dari total kredit yang sudah disetujui oleh perbankan senilai Rp 170 triliun.Hal tersebut disampaikan Deputi Gubernur Senior BI Miranda S Goeltom dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (21/5/2007)."Kita bisa hitung-hitung saja, kalau uang seperti itu pergi ke sektor yang labour intensive, berapa banyak kesempatan kerja yang semestinya bisa diciptakan tidak jadi diciptakan," ujarnya.Sebanyak 53 persen dari total kredit Rp 170 triliun merupakan kredit modal kerja, dan hanya 19 persen kredit investasi dan sisanya untuk kredit konsumsi."Kalau kredit modal kerja sebesar 53 persen tersebut kemudian di sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja seperti manufaktur dan perdagangan yang juga kurang lebih Rp 44 triliun juga tidak didisburse, berarti ada missing link antara kebijakan makro yang katanya sudah baik tapi dampaknya di sektor riil tidak terlihat," ujarnya.Menurut Miranda, harus dicari solusi untuk mengisi missing link tadi sehingga sektor mikro dapat bergerak. Miranda menegaskan, tidak terserapnya likuiditas itu tidak membuat BI senang. Menurutnya, BI justru tidak senang karena menyebabkan biaya BI membengkak."Jangan terpikir kita menjadi senang karena kita susah, itu costly bagi BI," ujarnya.
(ddn/qom)











































