Sempat Dihantam Turbulensi, Pasar Obligasi RI Mulai Pulih

Sempat Dihantam Turbulensi, Pasar Obligasi RI Mulai Pulih

- detikFinance
Selasa, 19 Jun 2007 16:30 WIB
Jakarta - Turbulensi di pasar obligasi Amerika Serikat (AS) pada 8 Juni lalu sempat merontokkan pasar obligasi Indonesia. Yield atau tingkat imbal hasil sempat membubung hingga 20-40 basis poin.Namun menurut Dirjen Pengelolaan Surat Utang Negara Depkeu Rahmat Waluyanto, pasar obligasi Indonesia kini sudah pulih. Bahkan yield sudah lebih rendah ketimbang sebelum terjadinya turbulensi.Alhasil, lelang obligasi negara pada hari ini menuai sukses. Bahkan permintaannya melebihi dari target pemerintah."Kenapa sangat fenomenal, karena satu minggu lalu terjadi turbulensi di pasar obligasi yang dipicu oleh sentimen negatif di pasar global," jelas Rahmat dalam konferensi pers di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (19/6/2007).Rahmat menjelaskan, turbulensi itu tarjadi karena suku bunga The Fed tidak turun, bahkan ada yang mengatakan naik. Sementara Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga, sehingga terjadi crash yang memuncak pada 8 Juni. "Pada 8 Juni, pasar obligasi negara kita terimbas sehingga terjadi kenaikan kurva imbal hasil atau yield 20-40 basis poin. Bayangkan, 20-40 basis poin. Terjadi net sell atau sell off dari asing sebesar Rp 3,5 triliun," ungkap Rahmat. Namun aksi jual obligasi oleh asing itu menurut Rahmat diselamatkan oleh bank-bank. "Nah, ternyata kira-kira seminggu setelah terjadi turbulensi itu, pasar mulai pulih," jelasnya. "Pasar obligasi negara kita cukup mempunyai daya tahan yang baik. Ini terlihat dari kecepatan pulihnya, dari yield yang naik hingga 40 basis poin, bahkan untuk yang 7 tahun lebih tinggi lagi. Dalam seminggu sudah pulih," tambahnya. Rahmat mencontohkan untuk lelang FR0043 pada hari ini, yang sebelum turbulensi memiliki yield 9,44%, namun sekarang jadi 9,34% atau turun 10 basis poin. "Sekarang lebih baik. Hal yang sama juga FR0045," katanya. Menurut Rahmat, hal itu terjadi karena investor masih memiliki kepercayaan atas pengelolaan utang, fiskal dann moneter. "Suku bunga masih akan turun, rupiah juga stabil. Jadi itu faktor-faktor yang menyebabkan investor masih percaya terhadap instrumen-instrumen Indonesia," tandasnya. (qom/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads