Pembiayaan Ganda Dorong NPL BPR

Pembiayaan Ganda Dorong NPL BPR

- detikFinance
Rabu, 04 Jul 2007 15:14 WIB
Jakarta - Sejumlah masalah menyebabkan kredit bermasalah atau NPL Bank Perkreditan Rakyat (BPR) saat ini angkanya mencapai 8-9 persen. Salah satunya adalah masalah pembiayaan ganda.Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Perbarindo Said Hartono usai acara penandatanganan linkage program di Gedung Bank Indonesia, Jalan Thamrin, Jakarta, Rabu (4/6/2007)."Dalam hal ini sudah terjadi double financing, ini yang harus kami lebih berhati-hati. Ini juga salah satu penyebab tinggnya NPL, jadi pembiayaan UMK ke nasabah bisa terjadi antar BPR atau tumpang tindih, terlebih lagi juga terjadi dengan bank umum, sudah dilayani BPR tapi dilayani lagi oleh bank umum," tuturnya.Kondisi perekonomian yang belum stabil juga ditengarai menjadi salah satu penyebab tingginya NPL BPR. "Kemudian pengaruh dari ketentuan untuk nasabah yang berubah, percepatan lamanya antara perpindahan antara lancar, diragukan dan macet, lalu dana bergulir cukup tinggi. Jadi dari kami diikuti dengan kehati-hatian penyaluran," paparnya.Untuk kisaran kredit BPR, Hartono menjelaskan, angkanya berbeda-beda. Untuk BPR yang besar umumnya memberikan suku bunga kredit yang lebih rendah."BPR besar over head cost-nya beda, sehingga ada kecenderungan BPR besar mengenakan bunga kepada nasabah jauh lebih rendah bahkan ada yang mendekati bunga bank umum," jelasnya.Sementara untuk BPR yang kecil dengan aset di bawah Rp 10 miliar, bunga kreditnya masih cukup tinggi karena biaya tenaga kerjanya masih besar.suku bunga BPR yang memiliki aset sekitar Rp 10 miliar antara kisaran 24-30 persen setahun," tambahnya.Sementara untuk premi pembayaran yang dijaminkan oleh LPS, Hartono mengatakan bahwa perbedaan jarak antara BPR dengan bank umum masih cukup baik yaitu sekitar 4 persen dari bank umum.Menanggapi adanya kemungkinan bank umum yang turun peringkat menjadi BPR, Hartono menyatakan bahwa pihaknya harus bersiap diri. "Kami harus mempersiapkan diri untuk dapat lebih efisien dan profesional sehingga tingkat suku bunga dan pelayanan tidak terlalu jauh dengan bank umum," katanya."Saya pikir bank-bank umum yang turun kelas ini pasti dalam hal ini masih mengambil segmen atas karena mereka sudah biasa melayani pinjaman kredit sekitar Rp 100 juta keatas, sementara pangsa BPR masih sekitar Rp 10 juta-an," tambahnya. (dnl/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads