BI Hati-hati Soal Basel II

BI Hati-hati Soal Basel II

- detikFinance
Kamis, 05 Jul 2007 13:02 WIB
Jakarta - Penerapan aturan Basel II perlu prakondisi yang ideal. Untuk itu, Bank Indonesia (BI) akan sangat berhati-hati agar aturan itu tetap bisa diterapkan sesuai kondisi perbankan Indonesia.Hal tersebut disampaikan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah dalam Seminar Nasional Dampak Penerapan Basel II terhadap konsolidasi perbankan nasional di Hotel Shangri-la, Jakarta, Kamis (5/7/2007)."Penerapan Basel II yang memerlukan prakondisi yang ideal tadi adalah sesuatu yang perlu kita lakukan dengan sangat hati-hati. Prakondisi ini menjadi sangat penting agar proses nantinya dan pengukuran risiko terutama risiko kredit, tidak bias-bias pada aspek-aspek yang tidak bisa kita kontrol terutama oleh perbankan," jelas Burhanuddin.BI mempertimbangkan efek terhadap perbankan mengingat kondisi riil saat ini masih masalah struktural, terutama di tingkat mikro."Ini adalah kondisi yang tipikal negara yang sedang membangun. Emerging countries mengalami hal yang sama termasuk di kita," tambahnya.Burhanuddin mengakui bahwa perbankan Indonesia memang harus mengikuti standar internasional. Ini mengingat sektor keuangan di Indonesia masih didominasi perbankan."Di negeri lain, mungkin banknya 30 persen, pasar modal 30-40 persen, kemudian non bank 30 persen. Sedangkan kita 90 persen bank, sehingga kalau terjadi sesuatu dengan bank, maka perekonomian kita akan mengalami panas dingin yang tinggi," jelasnya.Penerapan Basel II memang diharapkan akan memperbaiki kondisi perbankan. Menurut Burhanuddin, sebenarnya Indonesia ingin menerapkan semua best practices aturan internasional itu."Tetapi persoalan kita, apakah kita harus menerapkan semuanya? Apakah di lapangan sana, apakah situasi ekonomi kita sama seperti yang di buku? Apakah sektor riil kita sudah jalan seperti yang dipikirkan teori? Itu yang harus kita cermati," jelasnya.Di beberapa negarapun, lanjut Burhanuddin, tidak menerapkan seluruh aturan internasional tersebut. "Negara maju bahkan negara-negara seperti AS saja, mereka masih mencoba memilah dan memilih. Pada tahap pertama hanya beberapa saja, yang sangat international yang menerapka secara full. Karena itu kita memilih yang sangat stndar, dan itu pun akan dipilih secara bertahap, sesuai dengan kemampuan kita menyerap risiko-risiko tersebut," tandasnya. (qom/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads