120 Bank Bisa Selamat dari Krisis
Senin, 09 Jul 2007 11:11 WIB
Jakarta -
Kondisi perbankan Indonesia sudah memiliki ketahanan yang kuat. Sehingga kalaupun terjadi krisis seperti tahun 1997, perbankan Indonesia akan dapat bertahan dari depresiasi nilai tukar yang sangat besar.Hal tersebut Burhanuddin Abdullah usai seminar tentang GCG Perbankan Indonesia di LPPI, Jalan Kemang Raya, Jakarta, Senin (9/7/2007)."Perbankan kita kalau terjadi krisis lagi, dengan nilai tukar yang terdepresiasi sangat besar, hanya 3 bank dan bank-bank kecil yang akan mengalami kesulitan. Selebihnya, 120-an bank kita akan tetap tegar dan tetap bisa melaksanakan tugasnya," jelas Burhanuddin.Meski demikian, Burhanuddin meyakini kondisi saat ini tidak akan membawa kepada krisis tahun 1997. Hal ini diindikasikan oleh beberapa faktor. Seperti saat ini neraca pembayaran Indonesia surplus besar, sehingga cadangan devisa meningkat dan nilai tukar relatif stabil. Menurut Burhanuddin, APBN juga cukup baik dan defisit terkelola dengan cermat. "Kalau 0,71 sampai 1 persen adalah sesuatu yang bisa di-finance oleh perekonomian kita," jelasnya.Ia juga mengatakan, surplus neraca pembayaran di Indonesia saat ini merupakan yang keempat kalinya dalam sepanjang sejarah Indonesia. Pertama, pada tahun 1952, Indonesia berhasil mencatat surplus karena ada perang Korea. Sehingga Indonesia diuntungkan dari harga kopra yang tinggi. Surplus kembali dialami Indonesia tahun 1974 dan 1983 karena booming minyak. "Neraca pembayaran kita selebihnya defisit terus," jelasnya."Daya tahan perbankan kita sangat kuat. Itu hasil dari stress test yang kita lakukan. Daya saing perbankan kita juga sedang kita tingkatkan," imbuhnya.Sementara untuk pertumbuhan ekonomi di kuartal III dan IV diperkirakan akan lebih tinggi dari kuartal sebelumnya. Karena penyaluran kredit yang terus meningkat cepat dan pelaksanaan APBN yang semakin baik. "Di kuartal III dan IV yang semakin cepat penyarluannya, saya kira saya very optimistic," tandasnya.
(qom/ir)










































