Bank Harus Tambah Kredit Ekspor

Bank Harus Tambah Kredit Ekspor

- detikFinance
Sabtu, 14 Jul 2007 09:45 WIB
Bogor - Perbankan nasional didesak untuk meningkatkan penyaluran kredit bagi pembiayaan kegiatan ekspor di Indonesia. Kucuran kredit perlu untuk menunjang pertumbuhan ekspor Indonesia yang akhirnya akan menggerakkan ekonomi Indonesia.Hal tersebut disampaikan Direktur Biro Riset InfoBank Eko B. Supriyanto dalam diskusi mengenai kinerja dan rencana bisnis BEI yang digelar di Novotel Bogor, Jawa Barat, Jumat malam (13/7/2007). "Hal ini untuk menunjang pertumbuhan ekspor, sebab kalau ekspor meningkat, perekonomian akan bergerak, sektor riil berjalan dan yang terutama pengangguran berkurang," ujarnya.Dia mengatakan bahwa perbankan saat ini lebih banyak memfokuskan pembiayaannya pada sektor konsumen, dan sumber dana didominasi oleh dana deposito jangka pendek 1-3 bulan yang menjadikannya rawan risiko pembiayaan. "Sampai April 2007 total kredit konsumsi perbankan adalah Rp 236,4 triliun, sedangkan kredit ekspor hanya Rp 34,01 triliun atau hanya sekitar 15 persen jika dibandingkan antara kredit konsumsi dan kredit ekspor perbankan, hal ini terasa kurang dan peranan bank harus lebih luas," tuturnya. Sementara dari total kredit, Eko mengatakan bahwa sampai April 2007 jumlah kredit ekspor perbankan tersebut porsinya hanya 4,1 persen dari total kredit perbankan yang jumlahnya Rp 812,8 triliun. "Bahkan peran bank asing dalam pembiayaan ekspor per Mei 2007 cukup besar yaitu 18,66 persen," ujarnya. Menanggapi hal ini, Direktur Utama PT Bank Ekspor Indonesia (Persero) Arifin Indra mengatakan bahwa sumber pembiayaan ekspor itu bukan hanya dari perbankan. "Ada yang menggunakan uang sendiri, ada yang dari supplier atau buyer, ada juga yang dari pasar modal untuk perusahaan yang go public, dan terakhir dari bank," jelasnya. Arifin menambahkan dari beberapa sumber pembiayaan tersebut, kebutuhan dari perbankan hanya 15 persen. "Karena itu kredit ekspor perbankan rendah, tapi pertumbuhan ekspor masih bisa naik kalau memang ada pembiayaan investasi untuk peningkatan kapasitas produksi," tuturnya. Menurut Arifin permasalahan ekspor di Indonesia bukan hanya pembiayaan saja. "Tapi dari sisi pajak, hukum dan otonomi daerah, banyak hasil perdagangan ekspor dalam bentuk dollar tapi hasilnya tidak masuk ke Indonesia, hal ini karena biaya pajak di Indonesia lebih besar dari di luar seperti Singapura contohnya, oleh karena itu banyak perusahaan ekspor Indonesia yang lebih memilih untuk tercatat di Singapura karena pajak di sana rendah, termasuk pajak untuk pembagian dividen dibandingkan di Indonesia," jelasnya. (dnl/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads