BNI Tak Yakin Jadi Bapindo
Senin, 16 Jul 2007 15:09 WIB
Jakarta - Manajemen PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) memilih tak bersuara menanggapi rencana pemerintah menghidupkan lagi Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo).Sebelumnya Menneg BUMN Sofyan Djalil mengatakan pembentukan Bapindo dimaksudkan untuk membiayai proyek-proyek jangka panjang seperti infrastruktur.Namun Dirut BNI Sigit Pramono menilai terlalu prematur membicarakan BNI akan menjadi Bapindo karena itu masih sebatas wacana."Ini kan baru wacana. BNI sendiri belum yakin ini wacana sudah matang atau belum," kata Sigit disela-sela acara due diligence dan publik ekspose penawaran umum saham BNI di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Senin (16/7/2007).BNI kata Sigit, saat ini hanya akan menjalankan rencana-rencana yang sudah disampaikan ke publik seperti pelaksanaan rights issue dan secondary offering."Kami tidak akan mengomentari hal-hal diluar rencana kami. Jadi saya kira lebih baik wacana ini dimatangkan dulu," ujarnya.Sigit melihat pernyataan Menneg BUMN masih belum menunjuk BNI secara khusus untuk dijadikan Bapindo."Bapak Menneg BUMN pernah menyampaikan bahwa tidak seperti itu karena yang diperlukan adalah bank policy yang tidak banyak cabangnya jadi tidak secara spesifik diarahkan ke BNI," tutur Sigit.Sigit mengaku manajemen BNI belum pernah membicarakan soal Bapindo dalam rapat internal."Karena kami sedang fokus untuk melakukan transformasi dimana kita coba mengurangi porsi yang sebelumnya banyak di korporasi, menengah kecil dan konsumer. Dari situ Anda bisa menebak bahwa visi BNI tidak mengarah pada yang disebut dalam wacana tadi," jelas Sigit.Namun ketika ditanya masalah pembentukan Bapindo dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Perbanas, Sigit tidak pelit bicara. "Memang cukup masuk akal kalau ada pemikiran-pemikiran di dalam rangka membangun negeri ini dibutuhkan bank-bank yang sifatnya khusus," kata Sigit. Bank khusus adalah bank yang mempunyai sumber dana jangka panjang yang bisa ditempatkan kedalam kredit jangka panjang. Karena selama ini bank-bank yang ada di negeri ini adalah bank komersial yang sumber dananya jangka pendek dan memberi kredit jangka panjang yang sifatnya missmatch antara sumber dana dan penempatannya ada gap. "Jika sumber dana pendek ditekan di kredit jangka panjang ini bisa timbul risiko maka ada pemikiran diperlukan bank yang mempunyai sumber dana jangka panjang karena kalau membiayai jangka panjang infrastrukur dan sebagainya perlu bank yang namanya bank pembangunan," jelas Sigit.Meski demikian Perbanas menilai, perlu kajian mendalam untuk membentuk Bapindo ini. "Lebih baik wacana dimatangkan, nanti baru kita pikirkan seperti apa sebab secara konsep negeri ini yang sedang membangun perlu bank-bank seperti tadi karena kalau dari tabungan, giro itu jangka pendek semua yang dipinjamkan 5 atau 10 tahun," paparnya.
(ir/ddn)











































