BI Surati BCA Soal Error
Jumat, 27 Jul 2007 14:27 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) ternyata sempat khawatir atas terjadinya gangguan sistem jaringan Bank Central Asia (BCA) yang error pada 20 Juli lalu.Pasalnya munculnya gangguan teknologi perbankan bisa menjadi pemicu krisis seperti halnya tahun 1997, yang ketika itu infrastruktur sistem pembayaran perbankan belum kuat. "Seperti BCA yang beberapa hari lalu sistem ATM-nya mati, kita langsung kirim surat ke mereka untuk bertanya why? Karena hal ini tidak boleh terlalu sering terjadi, jadi sistem pembayaran itu harus bagus," ujar Deputi Gubernur Senior BI Miranda S Goeltom disela-sela acara kunjungan ke Museum BI Kota, Jakarta, Jumat (27/7/2007). Miranda mengatakan sistem pembayaran berbasis kartu meskipun lebih banyak sisi positifnya dengan memberikan kemudahan, namun hal negatifnya juga harus diperhatikan. "Kelemahan itu terutama dari sisi teknologi tadi, tapi yang harus digarisbawahi adalah kalau pengguna kartu tersebut tidak tahu cara mengamankannya, seperti merahasiakan nomor PIN misalnya," jelasnya. Miranda mengatakan bahwa dari data statistik jumlah kartu kredit dan ATM/Debet per Mei 2007 cukup besar. Sampai Mei 2007 dikatakan bahwa sudah ada 8,4 juta kartu kredit, sedangkan untuk kartu ATM/Debet sudah sebanyak 29,1 juta kartu. "Pertumbuhan kartu kredit itu sebesar 15-30 persen per tahun, sedangkan untuk kartu ATM/Debet bisa tumbuh 25-30 persen per tahunnya," ujarnya. Oleh karena itu Miranda mengatakan bahwa pengawasan sistem pembayaran dan informasi menjadi sangat penting bagi BI. "Ini berkaitan dengan tugas BI yaitu menjaga keamanan sistem pembayaran," tambahnya. Untuk sistem pembayaran ini, BI lanjut Miranda mempunya 4 kebijakan. "Ada 4 prinsip, meminimalisasi risiko sistem pembayaran, optimalisasi efisiensi sistem pembayaran, kesetaraan akses bagi pelaku transaksi, dan terakhir adalah prinsip perlindungan konsumen," paparnya.
(dnl/ir)











































