Peredaran Uang Palsu Anjlok

Peredaran Uang Palsu Anjlok

- detikFinance
Sabtu, 28 Jul 2007 14:28 WIB
Bandung - Berbagai usaha penanggulangan yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) melalui kerjasama dengan penegak hukum berhasil menekan peredaran uang palsu. Menurut data yang didapat dari BI, pada periode semester I 2007 rata-rata uang palsu yang beredar turun hingga 94% menjadi hanya 2 bilyet per satu juta bilyet. Padahal pada tahun lalu, rata-rata uang palsu yang beredar mencapai 35 bilyet per satu juta bilyet. "Ada beberapa upaya penanggulangan uang palsu, antara lain kerjasama dengan institusi lain untuk optimalisasi penganggulangan uang palsu," jelas Kepala Bagian Pengelolaan dan Pengadaan Uang Bank Indonesia Diffi A. Johansyah dalam diskusi dengan wartawan di Hotel Aston, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (28/7/2007). Salah satu upaya pengendalian adalah melalui sosialisasi mengenai ciri keaslian uang kepada masyarakat. Seperti diketahui, BI giat mensosialisasikan jargo 'Dilihat, Diraba dan Diterawang' kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat serius dan sadar mengenai adanya kejahatan uang palsu. "Lalu penelitian dan pengembangan yang terus-menerus terhadap teknologi security features baru, counterfeit analysis center dengan tugas analisa dan pemetaan temuan uang palsu dengan pembentukan unit khusus," tuturnya. Langkah lainnya adalah pembentukan pusat data bersama uang palsu yang terintegrasi antara BI, Kepolisian dan Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal). Menurut data yang diberikan, peredaran uang palsu paling besar terjadi di tahun 2002, dimana pemalsuan terbesar terjadi pada pecahan uang Rp 20.000 sebanyak 288.895 bilyet. "Pasca krisis ekonomi yang terjadi dimana tingkat ekonomi rendah, memang tingkat uang palsu akan berkurang, tetapi saat ini saat tingkat ekonomi bagus, maka tingkat uang palsu juga akan berkurang," tuturnya. Untuk mengurangi peredaran uang palsu ini, Diffi mengatakan bahwa BI akan berusaha terus meningkatkan kesegaran uang dengan mengedarkan uang cetakan baru, agar masyarakat bisa membedakan uang asli dengan uang palsu. "Seperti di Singapura, bank sentral mereka sering mengeluarkan uang cetakan baru. Ini akan membuat masyarakat dapat mengenali uang palsu," jelasnya. (dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads